Tiga Hal Esensial yang Perlu Disiapkan Sebelum Berwisata ke Krimea

Tahun 2016 hanya tinggal sejauh hitungan minggu, dan jadwal libur panjang di tahun depan telah banyak disebarkan di media-media sosial. Apakah Rusia termasuk ke dalam salah satu destinasi wisata Anda di 2016 mendatang? Jika iya, 2016 mendatang adalah saat yang tepat untuk menguji nyali Anda, baik sebagai turis maupun sebagai petualang, di salah satu wilayah yang sempat menjadi topik hangat selama 2014 lalu: Krimea. Amankah? Tentu saja!
Swallow's Nest
Swallow's Nest Sumber: Fauzan Al-Rasyid

Pada musim gugur lalu, saya berkesempatan mengunjungi semenanjung yang sempat menjadi “titik panas” antara Rusia dan Ukraina pada 2014 lalu. Kini, Krimea telah menjadi bagian dari Rusia. Artinya, Anda hanya perlu visa Rusia untuk pergi ke Krimea. Jika pada 2016 mendatang Anda berencana pergi ke Rusia, sempatkanlah berkunjung ke semenanjung yang menyimpan begitu banyak keindahan alam dan budaya ini. Anda tak akan menyesal.

Saya berada di Krimea selama dua minggu. Bagi saya, itu adalah dua minggu paling berkesan, setidaknya hingga saat ini. Namun demikian, berkunjung seorang diri ke Krimea bagi WNI seperti saya, tentu bisa menimbulkan cukup banyak kebingungan, terutama soal bahasa. Jujur saja, saya belum mahir dalam berbahasa Rusia. Sementara, mayoritas orang-orang di sana hanya berbahasa Rusia, atau katakanlah, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Rusia. Lalu, bagaimana saya bisa “selamat” seorang diri di Krimea dengan segala keterbatasan bahasa, dan bahkan, akses komunikasi? 

Ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan sebelum berangkat ke Krimea agar perjalanan Anda selama berada di semenanjung tersebut lancar, seperti kemampuan standar berbahasa Rusia, peta atau navigasi, dan informasi transportasi umum. Berikut ini beberapa tips penting jika Anda berencana berwisata ke Krimea.

Bahasa

Bahasa mungkin bisa menjadi salah satu hal penghambat dalam perjalanan Anda ke Krimea. Sejujurnya, saya hampir tak bisa membayangkan bagaimana seorang yang sama sekali “buta” dengan bahasa Rusia bisa “selamat” di sana, walau tentu saja hal itu tetap mungkin dilakukan. Namun, saya bisa katakan bahwa hampir seluruh pramusaji restoran-restoran atau kafe-kafe di Krimea, kasir di pasar swalayan, bank, terminal, atau bahkan bandara, serta petugas informasi dan polisi di sana, tidak berbahasa Inggris. Sementara, hampir segala papan informasi, tiket, menu, harga, dan sebagainya, ditulis dalam huruf Kiril.

Secara pribadi, saya memang tidak menyarankan Anda pergi ke Krimea tanpa pengetahuan bahasa Rusia sama sekali, kecuali Anda bepergian dengan orang yang bisa berbahasa Rusia atau mungkin Anda punya teman di sana. Namun jika Anda berencana pergi seorang diri, saya menyarankan Anda, setidaknya, harus bisa membaca huruf Kiril.

Anda tak perlu mahir dulu dalam bahasa Rusia, baru kemudian pergi ke Krimea. Anda cukup mengetahui kata-kata umum yang mungkin bisa “menyelamatkan” hidup Anda di sana, seperti “сколько?” (skolko? ‘berapa?’), “это где?” (eto gde? ‘ini di mana?’), “это на…?” (eto na…? ‘ini ke…?), “я хочу….” (ya khochu…., ‘saya mau…’.), “это” (eto, ‘ini/itu’), “да” (da, ‘iya’), “нет” (nyet, ‘tidak’), dan “спасибо” (spasibo, ‘terima kasih’).

Tentunya, ada banyak kata lainnya yang bisa Anda cari tahu dan catat dari situs-situs belajar bahasa Rusia, bahkan Anda pun bisa mencari tahu lebih lanjut mengenai bahasa Rusia di rubrik Belajar Bahasa Rusia di RBTH Indonesia.

Namun, selama dua minggu saya di Krimea, bukan berarti saya sama sekali tidak menemukan orang Rusia yang bisa bicara bahasa Inggris. Setiap kali saya pindah dari hostel yang satu ke hostel lainnya, saya selalu menemukan turis Rusia yang bisa berbahasa Inggris.

Alat Komunikasi dan Navigasi

Sebelum ke Krimea, saya berada di Moskow selama satu minggu. Di Moskow, saya membeli nomor lokal agar saya bisa berkomunikasi, atau khususnya mengakses internet melalui telepon genggam saya. Pengalaman saya di 2014, saat saya ke Sankt Peterburg, saya harus memastikan apakah nomor telepon yang saya beli di Moskow sata itu bisa digunakan di Piter (sebutan warga lokal bagi kota Sankt Peterburg -red.). Ini dikarenakan, sistem komunikasi di Rusia tidak sama seperti di Indonesia. Di Indonesia, satu nomor dari salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler dapat digunakan dari Sabang sampai Merauke, dengan segala fitur dan layanannya. Namun, hal itu tak sama dengan di Rusia. Karena itu, jika Anda ingin membeli nomor lokal, pastikan Anda bertanya apakah nomor tersebut bisa digunakan untuk berkomunikasi dan mengakses internet di daerah tujuan wisata Anda berikutnya.

Saya ingat, saat di Moskow, saya memang menanyakan apakah nomor yang hendak saya beli saat itu bisa digunakan di Krimea. Menurut sang penjual, nomor tersebut bisa digunakan, dan ia benar. Namun, sayangnya saya tidak bertanya lebih spesifik terkait akses internet. Ketika sampai di Krimea, nomor telepon Rusia saya ternyata tidak bisa dipakai untuk mengakses internet. Alhasil, selama dua minggu di Krimea, saya “jauh” dari koneksi internet. Saya hanya bisa bergantung pada koneksi Wi-Fi di hostel-hostel tempat saya menginap, yaitu pada pagi hari sebelum bepergian dan di malam hari saat istirahat.

Lalu, bagaimana saya bepergian dan “selamat” menjelajahi Krimea selama dua minggu tanpa koneksi internet, khususnya untuk mencari lokasi dan navigasi? Saya tentu saja butuh peta. Saat di Moskow saya sudah terlebih dulu mengunduh peta offline Krimea. Aplikasi ini adalah MAPS.ME. Setidaknya, kalau bukan karena aplikasi ini, mungkin perjalanan saya selama di Krimea tidak akan berjalan lancar. Selain bisa menandai berbagai lokasi di peta elektronik ini, MAPS.ME juga menyediakan fitur navigasi. Semua itu dilakukan tanpa koneksi internet, dan keakuratannya cukup tinggi. Aplikasi ini tersedia untuk Andorid, iOS, dan BlackBerry

Aplikasi MAPS.ME.Screenshot aplikasi MAPS.ME di sistem operasi Android.

Transportasi Umum

Transportasi umum di Krimea terdiri dari bus, bus listrik (trolleybus), taksi, dan kereta api. Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Krimea dan sama sekali buta arah, satu-satunya transportasi yang paling masuk akal untuk saya naiki agar sampai ke hostel adalah taksi. Namun, tentu saja, harganya sangat mahal. 

Taksi di Krimea tidaklah seperti di Indonesia yang bewarna-warni, memiliki logo perusahaan, pelat nomor khusus, sopirnya memiliki tanda pengenal, dan di dalamnya ada argometer. Di Krimea, taksi bisa berupa mobil pribadi, dan Anda harus tawar-menawar terlebih dulu dengan si sopir ketika ingin pergi ke suatu tempat. Jika si calon penumpang tidak bisa berbahasa Rusia, tentunya akan lebih mudah bagi si sopir “memainkan” harga, dan sejujurnya, saya pun tidak bisa berbuat banyak untuk menawar harga. Jika Anda tak setuju dengan tarif yang ditawarkan si sopir maka ia tidak akan memohon-mohon dan menurunkan tarifnya agar kita jadi menggunakan jasa taksinya. Jadi, saya melihat sopir-sopir taksi di Krimea punya posisi tawar yang tinggi.

Zh/D vokzal di kota Simferopol, Krimea.Zh/D vokzal di kota Simferopol, Krimea. Sumber: Fauzan Al-Rasyid

Alternatif transportasi umum yang paling baik, menurut saya, untuk bepergian di Krimea adalah bus. Tarif bus dalam kota di Krimea bervariasi, antara 10 hingga 12 rubel (sekitar 2.000 hingga 2.500 rupiah) untuk sekali jalan. Di Simferopol, ibu kota Krimea, tarif bus dalam kota hanya 10 rubel saja. Sementara, tarif bus listrik hanya tujuh rubel (sekitar 1.400 rupiah) saja.

Jika Anda mau pergi dari satu kota ke kota lainnya, bus antarkota juga dijadikan pilihan transportasi untuk menuju tujuan Anda. Jika Anda di Simferopol, Anda perlu pergi ke terminal bus atau yang disebut “Ж/Д вокзал” (Zh/D vokzal). Agar lebih nyaman, Anda bisa terlbih dulu memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan bus di situs jadwal bus Yandex Raspisaniya. Setelah sampai di terminal, Anda tinggal pergi ke loket dan membeli tiket bus atau bus listrik. Bus antarkota di Krimea terbilang cukup baik. Namun yang paling penting, bus-bus di sana berangkat dan tiba tepat waktu.

Jadi, sudah siap berpetualang ke Krimea tahun depan?

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

 
+
Ikuti kami di Facebook