Rahasia Kota-kota Tertutup di Rusia yang Tak Akan Ditemukan pada Peta

22 September 2016 Oleg Egorov, RBTH
Sejak era Uni Soviet, ada banyak objek militer penting yang disembunyikan. Karena itu, dibuatlah kota tertutup. Tanpa izin khusus, seseorang dilarang memasuki kota-kota ini. Meski begitu, hal tersebut tak menghentikan para wisatawan yang tetap ingin berkunjung.
Floating_Dock_Severomorsk
Severomorsk, kota pangkalan Angkatan Laut Rusia, berada 1.496 kilometer di sebelah utara Moskow. Sumber: Lori / Legion-Media

Kota tertutup pertama muncul di Uni Soviet pada akhir 1940-an. Atas perintah Stalin, dijalankanlah sebuah proyek Soviet untuk mengembangkan senjata nuklir. Di sejumlah bagian terpencil negara tersebut, tumbuhlah wilayah permukiman rahasia yang tidak dapat ditemukan pada peta.

Reaktor nuklir, pabrik produksi bahan-bahan untuk pembuatan bom nuklir, pusat-pusat penelitian studi tenaga nuklir — semua ini bertempat di sebuah wilayah tertutup (ZATO).

Masyarakat pada era Soviet sering kali kesulitan membeli makanan. Ada banyak produk yang tidak bisa dibeli bebas dengan hanya datang ke toko, melainkan benar-benar harus dicari.

Pada zaman Uni Soviet, di dalam kota-kota tertutup ini bermukim ribuan orang yang secara resmi tidak ada (tidak tercatat). Jika ada salah satu penduduknya yang pergi ke luar kota, ia akan dituntut secara pidana jika ia mengatakan dari mana ia berasal. Untuk memasuki wilayah ZATO ini tidak dapat dilakukan tanpa izin khusus. Namun, sebagai kompensasi terhadap rezim yang keras tersebut, para penduduk kota tertutup ini menerima tambahan gaji yang lebih besar sebanyak 20 persen.

Selain itu, untuk mendapatkan bahan makanan di wilayah ZATO juga lebih mudah dibandingkan di kota-kota biasa. Para penduduk di wilayah ini bisa dengan mudah mendapatkan bahan makanan yang langka, seperti sosis.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, pihak berwenang Rusia membuka beberapa kota tertutup ini. Namun, banyak di antaranya yang hingga kini tetap tertutup: kini di Rusia terdapat 40 kota yang tetap berada dalam rezim ZATO.

Melintasi Wilayah

“Terdapat pagar yang tinggi di wilayah perbatasan, lalu terdapat beberapa pos pemeriksaan sebelum akhirnya Anda dapat memasuki wilayah tersebut,” kata mantan penduduk ZATO, tepatnya di kota Ozersk yang berada di wilayah Chelyabinsk (1.443 kilometer sebelah timur Moskow) bernama Konstantin.

Kota Ozersk. Sumber: Arsip pribadiKota Ozersk. Sumber: Arsip pribadi

Kota Ozersk dibangun pada tahun 1940. Kota ini terletak di antara empat danau di wilayah Ural. Di wilayah ini terdapat sebuah perusahaan besar yang memproduksi komponen senjata nuklir dan isotop.

Pemandangan yang sama terlihat di setiap kota ZATO. Pos pengamanan hanya akan memberi izin masuk terhadap pihak yang memiliki izin khusus. Menurut seorang penduduk kota tertutup Sarov (373 kilomer sebelah timur Moskow) bernama Irina, “Setahu saya, ada tiga jenis izin: izin untuk sekali masuk, sementara, dan permanen. Izin permanen hanya diberikan kepada setiap orang yang lahir, maupun bekerja untuk perusahaan nuklir di wilayah tersebut. Dua izin lainnya dapat diperoleh setelah melewati pertimbangan panjang dari layanan keamanan, dan hanya jika Anda adalah kerabat dekat dari salah seorang penduduk kota, atau pun berpergian untuk urusan bisnis. Biasanya para wisatawan, terutama wisatawan asing, akan sulit memasuki wilayah ini, bahkan bisa dibilang mustahil untuk masuk.”

Tidak ada batasan lain pada kehidupan masyarakat di kota-kota tertutup ini. “Tidak ada pemblokiran internet dan tidak ada jam malam,” kata Konstantin menyanggah mitos mengenai kota tertutup.

Pelabuhan yang Tenang

Warga wilayah ZATO mengakui keamanan kota adalah salah satu keuntungan hidup di kota tertutup.

“Saat saya kecil, kata ‘kota’ adalah sinomim untuk sesuatu yang terlindungi. Tidak ada orang-orang luar yang dapat masuk ke wilayah kami, termasuk mantan tahanan, penipu, dan pengemis. Pada usia enam tahun, saat saya berpergian bersama keluarga ke kota lain, untuk pertama kalinya saya melihat seorang nenek yang mengemis di jalanan. Bagi saya, hal semacam itu adalah suatu kejutan,” kata Konstantin.

Kota Sarov. Sumber: Arsip pribadiKota Sarov. Sumber: Arsip pribadi

Selain itu, sangat nyaman belajar dan bekerja di kota-kota tertutup, terlebih lagi bagi warga yang pekerjaannya berhubungan dengan bidang utama pengembangan industri di kota itu. Sebagai contoh adalah kota Sarov yang pada era Uni Soviet menjadi pusat pengembangan senjata nuklir, bahkan hingga saat ini, Sarov masih menjadi salah satu kota yang paling penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan Rusia.

“Tidak ada perguruan tinggi di kota (kelahiran) saya, sehingga institut di Sarov menarik bagi saya yang ingin memperdalam ilmu Fisika dan Matematika,” kata Irina.

Setelah lulus dari institut tersebut, Irina kini bekerja di Sarov, tepatnya di sebuah perusahaan yang terkait dengan badan atom negara Rosatom yang bergerak dalam proyek di bidang energi nuklir.

Dibuka atau Dibiarkan Tertutup?

Yang menjadi kelemahan bermukim di kota tertutup adalah kebosanan dengan nuansa lokal. “Di kota Severomorsk misalnya, umumnya tidak ada yang bisa dilakukan di waktu luang,” kata Roman yang bermukim di kota tersebut (Severomorsk merupakan kota pangkalan Angkatan Laut Rusia, berada 1.496 kilometer di sebelah utara Moskow). Roman yakin bahwa status tertutup menghalangi perkembangan bisnis. Ia pun berharap agar Severomorsk dapat menjadi kota terbuka. Menurutnya, hal ini akan mempermudah kunjungan dan komunikasi dengan teman maupun kerabat. Di samping itu, kota juga akan mendapat keuntungan secara ekonomi.

Meski begitu, tidak semua warga di kota tertutup sependapat. Jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kota-kota tertutup mendukung pelestarian rezim tertutup. Konstantin dari kota Ozersk juga menolak “pembukaan” kotanya.

“Seperti yang selalu kami katakan, meskipun kota kami kecil, kami tetap bangga. Jika penduduk di kota-kota lain diberikan pertanyaan, ‘Hal apa yang tidak boleh Anda lupakan saat berpergian ke luar kota?’ jawabannya adalah, ‘telepon atau arloji’. Tetapi tidak dengan penduduk Ozersk, kami dengan bangga mengatakan, ‘paspor dan izin masuk!’”

 
+
Ikuti kami di Facebook