Kenapa Rusia Perlu Dipertimbangkan Sebagai Destinasi Studi Masa Depan?

Kuliah tak melulu harus mengikuti arus. Rusia adalah alternatif pendidikan untuk masa depan. Apalagi, saat ini Negeri Beruang Merah mulai membangun kerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang.
Student life at St. Petersburg State University
Suasana belajar mengajar di Universitas Negeri Sankt Peterburg (SPbGU). Sumber: Sergei Konkov / TASS

Di Indonesia, kuliah ke Rusia senantiasa diiringi kernyit dahi atau stigma yang berkaitan dengan Uni Soviet. Padahal, sudah hampir 27 tahun berlalu sejak negara Komunis tersebut bubar. 

Akibat beberapa stigma tertentu, jumlah mahasiswa Indonesia yang mengenyam pendidikan di Rusia sangatlah kecil.

Pada 2011, hanya 27 orang mahasiswa yang berangkat ke Negeri Beruang Merah tersebut, padahal Pusat Kebudayaan Rusia di Jakarta memberi kuota untuk 45 mahasiswa. Tiga tahun kemudian, jumlah mahasiswa yang berangkat ke Rusia meningkat menjadi 125 orang.

Kini, kuota yang disediakan telah berlipat ganda — meningkat 300 persen dibanding lima tahun lalu, menjadi 150 orang. Meski demikian, secara keseluruhan jumlah alumni Indonesia dari Rusia masih kurang dari seribu orang.

Sementara, Malaysia dan Vietnam adalah dua negara Asia Tenggara yang rutin mengirim 2.000 – 3.500 mahasiswa mereka ke Rusia untuk mempelajari berbagai bidang, mulai dari kedokteran hingga agrikultur. 

Data tersebut sejalan dengan fakta bahwa pelayanan dokter Malaysia dan kesuksesan Vietnam sebagai salah satu negara pengekspor beras terbesar di dunia terbukti menggungguli Indonesia.

Menuntut Ilmu ke Rusia 

Kuliah tak selalu harus mengikuti arus. Rusia adalah alternatif pendidikan untuk masa depan. Apalagi, saat ini Negeri Beruang Merah mulai membangun kerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang, seperti konstruksi infrastruktur di Kalimantan dan rencana kerja sama pengelolaan kilang minyak di Tuban. Belum lagi, Indonesia pun berkeinginan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). 

Kerja sama pembangunan infrastruktur rel kereta api yang berbasis transfer ilmu pengetahuan merupakan salah satu momentum kebangkitan alumni Indonesia dari Rusia. Pemerintah Kalimantan Timur mengirim puluhan putra daerah untuk mempelajari ilmu perkeretaapian yang nantinya bisa diterapkan dalam proses pengerjaan proyek tersebut. 

Dengan beberapa fakta di atas, tak ada salahnya untuk bersiap menjajal destinasi kuliah alternatif, seperti Rusia. Menjelang kedatangan 2017, para calon mahasiswa yang tertarik menimba ilmu di Rusia sebaiknya bersiap-siap menyimak pengumuman beasiswa dari pemerintah Rusia yang biasanya disampaikan pada Januari – Maret. 

Beasiswa Pemerintah Rusia

Setiap tahun, pemerintah Federasi Rusia membuka pendaftaran untuk program kuliah berbeasiswa di Rusia. Program beasiswa dibuka untuk jenjang pendidikan S1 (empat tahun), S2 (dua tahun), dan Spesialis (lima tahun). Masing-masing jenjang pendidikan ini sebelumnya didahului dengan program bahasa Rusia di fakultas persiapan selama satu tahun (gratis sebagai bagian dari program beasiswa).

Selain program tersebut, ada pula program pelatihan selama tiga, lima, atau sepuluh bulan sesuai dengan spesialisasi yang aktif ditekuni calon peserta, seperti dosen, guru, atau pekerjaan profesional lainnya. Untuk program pelatihan ini, tidak terdapat kuliah bahasa Rusia. Para pendaftar diasumsikan cukup memahami kata-kata khusus di bidang yang akan ditempuh.

Pada 2015, sekitar 119 mahasiswa Indonesia tercatat berangkat kuliah ke berbagai kota di Rusia. Setahun sebelumnya, pada 2014, jumlah mahasiswa Indonesia yang berangkat kuliah ke Rusia sebanyak 125 orang.

Beasiswa pemerintah Rusia hanya mencakup biaya pendidikan selama di kuliah. Mahasiswa harus menyediakan sendiri biaya-biaya lain di luar biaya pendidikan, seperti biaya visa, asuransi, tiket pesawat, asrama, biaya hidup bulanan, serta biaya penerjemahan dan legalisasi dokumen.

Tak diragukan, kelak masyarakat Indonesia akan merasakan efek positif dari pemuda-pemudi yang dikirim ke Rusia. Tidak tertutup di masa depan Rusia akan menjadi salah satu negara yang menjalin hubungan paling erat dengan Indonesia.

Karena itu, kehadiran generasi muda Indonesia yang memiliki pengalaman langsung terkait budaya kerja di Rusia akan menjadi aset berharga yang wajib diberdayakan oleh kedua negara.

Adri Arlan Sinaga menempuh pendidikan S1 di UGM, Yogyakarta. Rasa penasaran pada kawasan Eropa Timur membawanya melanjutkan pendidikan S2 di RUDN, Moskow, melalui beasiswa pemerintah Rusia. Gemar berdiskusi tentang isu-isu global, ASEAN, dan Eurasia. Saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Komunikasi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, mengajar mata kuliah Komunikasi Politik, Opini Publik, Metodologi Penelitian Komunikasi, dan Ilmu Politik. Ia dapat dikontak melalui surel ke alamat: adriarlan@gmail.com.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.


Masih ragu untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Rusia? Coba telusuri artikel-artikel menarik berikut:

Cara memilih univeristas di Rusia

Daftar 20 kampus Rusia terbaik yang masuk peringkat dunia

Enam kejutan kuliah di Moskow

Atau mungkin, Anda mau kuliah di kampusnya Presiden Putin?

Dan cari tahu juga caranya agar bisa diterima di sana!

+
Ikuti kami di Facebook