Orang-orang Molokan: Tetap Bertahan Meski Sempat Hidup Penuh Tekanan

Suku Molokan mengalami opresi penindasan di bawah pemerintahan Tsar Rusia dan Turki. Mereka disebut menyimpang dan tercerabut dari rumah dan kediaman mereka. Namun, bak burung burung phoenix, mereka terlahir kembali di negara yang baru.

Keluarga Molokan Konovalov berdiri di ladang. Leluhur mereka pergi dari Turki ke Rusia pada pertengahan abad lalu. Sumber: Yekaterina FilippovichKeluarga Molokan Konovalov berdiri di ladang. Leluhur mereka pergi dari Turki ke Rusia pada pertengahan abad lalu. Sumber: Yekaterina Filippovich

Molokan, sebuah aliran di Kristen Ortodoks dan merupakan kelompok etnis khusus Rusia, muncul di Rusia pada akhir abad ke-18 dan dianggap sebagai sekte menyimpang oleh gereja resmi, cukup mirip dengan Protestan. 

Mereka berbeda dari penganut Ortodoks tradisional yang menganggap Alkitab sebagai dasar yang harus diikuti oleh semua penganutnya. Orang Molokan mengasosiasikan Alkitab seperti ‘susu spiritual’ yang memberikan nutrisi bagi jiwa manusia. Menurut orang-orang Molokan, karena alasan itulah mereka disebut “Molokan” (moloko dalam bahasa Rusia berarti susu).

Namun, ada pula teori lain. Diduga, “Molokan” adalah sebutan yang diberikan penganut Ortodoks pada orang-orang ini oleh karena saat itu mereka tidak berpuasa dan terus mengonsumsi susu dan produk protein lain (mereka hanya benar-benar berpuasa selama masa pra-Paskah).

Selain itu, orang-orang Molokan juga punya pemahaman tersendiri mengenai Trinitas dan Kristus. Mereka juga tak mengakui kehadiran santo-santa dan ikon, tak punya pendeta dan sakramen, dan mengangap semua jemaat beriman sebagai gereja.

Orang-orang Molokan kini tinggal di AS, Meksiko, Georgia, dan Azerbaijan. Pada pertengahan abad lalu, beberapa ribu orang Molokan pindah ke Rusia dari Turki dan tinggal di desa di Stavropolskiy Krai (1.500 km selatan Moskow).

Desa yang Hilang

Tak mudah menemukan desa Molokan jika Anda tak tahu di mana mereka tepatnya berada. Orang-orang di sini terbiasa hidup dalam keterpencilan, jauh dari peradaban dan mata-mata penasaran. Mereka memilki beberapa desa yang tersebar di wilayah timur Stavropol. Salah satunya berada di dekat desa Kamennaya Balka, atau Tiang Batu. Untuk mencapai tempat ini, Anda harus melalui jalanan bergelombang dan menghitung belokan.

Di persimpangan, kami bertemu dengan Andrei Konovalov, seorang ayah dari sebuah keluarga yang besar. Ia berkendara di atas jalan setapak hingga terlihat atap rumah yang menyembul dari balik bukit. Hampir tiap rumah terlihat seperti rumah kue jahe dan taman depan penuh semak-semak mawar yang rimbun.

Andrei Konovalov. Sumber: Yekaterina FilippovichAndrei Konovalov. Sumber: Yekaterina Filippovich

Rumah-rumah kecil dikelilingi oleh pagar dengan gambar dari kartun (tiba-tiba, ada gambar Putri Salju dan Tujuh Kurcaci di sini). Semuanya terletak di jalan yang sama, membentang seperti panah. Jalan tersebut berujung ke ladang gandum musim dingin.

Keluarga Konovalov memiliki 101 hektar tanah yang subur. Andrei bekerja sebagai petani dan mengurus kebun.

Sejarah dan Agama

Pavel Konovalov, seorang Molokan (ayah Andrei), bicara bahasa Rusia dan Turki. Sumber: Yekaterina FilippovichPavel Konovalov, seorang Molokan (ayah Andrei), bicara bahasa Rusia dan Turki. Sumber: Yekaterina Filippovich

Orang-orang Molokan secara tradisional tinggal di Kaukasus, di wilayah Kars, yang diduduki oleh Rusia pada masa pemerintahan Aleksandr II. Di bawah pemerintahan Lenin, wilayah ini kembali menjadi milik Turki, sehingga semua orang Molokan bicara dua bahasa, Rusia dan Turki.

“Orang-orang Molokan percaya bahwa kedatangan Kristus akan terjadi tepat di Gunung Ararat, sehingga mereka ingin tetap berada di tanah Turki agar lebih dekat dengan gunung,” kata ayah Andrei, Pavel Konovalov. “Namun, di Turki kami tak merasa aman. Tanah kami bisa jadi sudah dirampas dan anak perempuan kami mungkin sudah diculik.”

Pada 1962, pemerintah Soviet menawarkan pada orang-orang Molokan untuk kembali ke Uni Soviet. Kala itu, keluarga Pavel juga mendapat tawaran untuk pindah ke Amerika, yang di sana terdapat diaspora Molokan. Namun, keluarganya menolak dan memilih kembali ke Uni Soviet.

“Kami dijanjikan kebebasan berkeyakinan. Jadi kami mempercayainya,” kenang Pavel. “Segera setelah kami pindah ke Uni Soviet, kami harus tinggal di pondok-pondok tanah. Tak ada apa-apa. Kami membangun seluruh desa sendiri.”

Sebanyak tiga ribu orang pindah dari Turki ke Rusia.

Andrew pergi untuk menambang pasir dari tambang terdekat. Sumber: Yekaterina FilippovichAndrew pergi untuk menambang pasir dari tambang terdekat. Sumber: Yekaterina Filippovich

Adakah Hubungan Molokan dengan ‘Susu’?

Lantai rumah Andrei dilapisi oleh permadani warna-warni dengan motif bunga matahari. Tak ada warna hitam dalam interior rumah. Orang Molokan menyukai warna terang, khususnya putih karena melambangkan kemurnian. Pada hari Minggu, mereka mengenakan pakaian tipis dan menyembunyikannya di peti hingga minggu depan. Warna putih, terang — adakah kaitannya dengan susu?

“Molokan tak berasal dari kata ‘susu’,” kata Pakhom, adik dari kakek si tuan rumah secara mengejutkan. “Di Alkitab, terdapat metafora yang murni menyebutkan mengenai susu spiritual. Nama kami berasal dari itu. Kami berasal dari satu akar tunggal. Penganiayaan tsar Rusia mengajarkan kami untuk tetap bersama.”

Ia mengernyitkan alis tebalnya dan menceritakan kisahnya. Ia bercerita, putrinya telah meninggalkan kelompoknya selamanya karena ia tak mau menikahi seorang Molokan.

Sebuah peraturan penting dalam kehidupan: Anda harus menikah seseorang dari kelompok Anda, agar tak mencampur darah, atau Anda tak layak berada di sana. Untuk menghindari pernikahan antara kerabat jauh, pengantin pria untuk perempuan Molokan Stavropol diundang dari Azerbaijan dan Georgia.

Sebagai contoh, istri Andrei, Olga, datang untuknya dari Armenia.

Hidangan di Atas Meja Molokan

Orang Molokan sangat menyukai teh. “Kami memulai dan mengakhiri semua santapan dengan teh,” kata Andrei. “Kami hanya membeli garam dan gula di toko. Sisanya kami buat sendiri.”

Ibu keluarga Konovalov menyajikan makan siang. Hal yang paling menonjol di meja adalah samovar kuningan dengan semburan panjang. Di masing-masing sisi, terdapat bangku panjang — bukan kursi — yang dibuat untuk keluarga besar. Olga mengiris keju buatan rumah yang ia siapkan sehari sebelumnya.

Yekaterina Filippovich
Yekaterina Filippovich
Yekaterina Filippovich
 
1/3
 

Setelah makan malam yang hangat, Andrei mengelus janggut panjangnya dengan puas. “Menurut hukum kami, kepala keluarga harus punya janggut,” katanya. “Ketika Anda pergi dari desa ke kota, kadang orang-orang menunjuk kami. Kami tak sering terlihat di kota. Namun, orang-orang dari komunitas tahu bagaimana menemukan kami.”


Cari tahu juga suku-suku di Rusia lainnya, seperti:

Suku Karelia

Suku Nanai

Masyarakat pribumi di Utara Jauh

Masyarakat etnis Korea di Pulau Sakhalin 

Masyarakat Rusia di Kaukasus Selatan

+
Ikuti kami di Facebook