Adakah Peran Rusia dalam Keputusan Pemangkasan Produksi Minyak Oleh OPEC?

5 Desember 2016 Alexey Lossan, RBTH
Para pakar yakin keputusan OPEC untuk mengurangi jumlah produksi dipengaruhi oleh Rusia dalam berbagai aspek. Secara khusus, pada tahun ini pemerintah Rusia telah mencoba merekonsiliasi Iran dan Arab Saudi.
Employees demonstrate a sample of oil from
Seorang pekerja menunjukkan sampel minyak dari sumur minyak di pusat fasilitas pengolahan ladang minyak Priobskoye milik Rosneft di luar kota Siberia Barat, Nefteyugansk. Sumber: Reuters

Keputusan OPEC untuk memangkas produksi minyak selama enam bulan ke depan telah memperkuat mata uang Rusia secara tajam. Nilai rubel meningkat 10 persen terhadap dolar dan euro, demikian dilaporkan harian bisnis Kommersant.  

Selain itu, menurut Reuters, harga minyak Ural Rusia telah meningkat sembilan persen menjadi 47,51 dolar AS per barel, yang merupakan harga tertinggi sejak 31 Oktober lalu. Para pakar menyebutkan bahwa harga minyak dan rubel meningkat tak hanya karena keputusan OPEC, tapi juga karena Rusia terlibat di dalamnya.

Peran Rusia

“Keputusan OPEC bisa disebut bersejarah. Selama delapan tahun, organisasi tersebut tak berhasil menyepakati apa pun dan selama dua tahun perang harga terus berlangsung,” kata Oleg Bogdanov, analis utama di Teletrade Group.

Menurut Bogdanov, Rusia selalu memainkan peran penting dalam proses negosiasi. Bisa jadi dialog yang berlangsung pada akhir November antara perwakilan OPEC dan Menteri Energi Rusia Alexander Novak merupakan kunci keberhasilan kesepakatan di Wina, tambah Bogdanov.

Secara khusus, menurut Bogdanov, Rusia memutuskan untuk memangkas produksi sebesar 300 ribu barel per hari. “OPEC dan Rusia menunjukkan bahwa pasar minyak terkendali dan bisa diatur berdasarkan situasi perekonomian global.”

“Sepanjang tahun, para produsen terus meningkatkan volume produksi yang mengancam runtuhnya pasar dengan pasokan yang terlalu banyak. Dengan kesepakatan yang telah dibuat, bisa diasumsikan bahwa kompetisi untuk pangsa pasar akan berhenti dan pasar akan lebih stabil,” kata Andrei Kochetkov, analis di Otkrytie Broker.

Pada Februari lalu, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menawarkan Arab Saudi, Qatar, dan Venezuela untuk membekukan produksi minyak ke level Januari, jika negara-negara produsen minyak lain ikut terlibat dalam inisiatif tersebut.

Arab Saudi menentang kesepakatan tersebut karena Iran belum siap membekukan volume produksi: setelah pencabutan sanksi, negara tersebut mencoba untuk merebut kembali pangsa pasarnya. Kemudian, republik Islam tersebut memutuskan untuk meningkatkan volume produksi dari 1,5 menjadi 2 juta barel per hari.

Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan dalam wawancara dengan Bloomberg pada September 2016 bahwa ada kemungkinan dilakukan pembekuan volume produksi bahkan tanpa keterlibatan Iran.

Deposit Baru

Keputusan OPEC untuk memangkas kuota ternyata lebih baik dibanding kondisi yang diharapkan Rusia karena secara formal ia tak wajib memotong jumlah produksi.

“Saat ini, Rusia beruntung karena harga meningkat dan ia memiliki potensi untuk memperluas ekspornya,” terang Sergei Kozlovsky, Direktur Departemen Analisis di Grand Capital.

Selain itu, peningkatan harga ke level 53 – 55 dolar AS per barel akan memaksa negara-negara produsen minyak non-OPEC meningkatkan produksi mereka, kata Ivan Kapitonov, dosen di Akademi Ekonomi Nasional dan Administrasi Publik Kepresidenan Rusia (RANEPA). Menurut Kapitonov, ekspektasi kebangkrutan sejumlah perusahaan minyak serpih pun tak terjadi. Selain itu, dengan peningkatan harga minyak, deposit baru juga pasti akan diberlakukan.

Segera setelah harga minyak melebihi 45 dolar AS per barel, terdapat peningkatan pengeboran bulanan di AS, yang secara tak langsung menyimpulkan bahwa ladang baru telah dibuka. Secara rata-rata, jumlah pengeboran di AS meningkat dari 464 pada Agustus menjadi 509 pada September dan 544 pada Oktober. Namun, tetap saja ini masih lebih rendah 247 unit dibanding Oktober 2015, ketika jumlahnya mencapai 791 unit.

“Dengan demikian, dalam tiga hingga empat bulan ke depan kita bisa memperkirakan peningkatan harga dan produksi di AS, yang tentu akan lebih baik karena harga minyak kini telah mencapai lebih dari 52 dolar AS,” terang Kapitonov, seraya menambahkan bahwa di masa depan hal ini dapat menciptakan penurunan baru harga minyak.

+
Ikuti kami di Facebook