Resolusi Pemblokiran Media Rusia di Eropa Buktikan Krisis Nilai-nilai Barat

Barat tak siap menerima ‘pluralisme media sebenarnya’.
Russia Today
Parlemen Uni Eropa meloloskan rancangan resolusi untuk memblokir kantor berita Sputnik dan stasiun televisi Russia Today (RT). Sumber: ITAR-TASS.

Resolusi yang diadopsi parlemen Uni Eropa untuk melawan propaganda negara lain, termasuk Rusia, menunjukan adanya krisis dalam nilai yang dianut negara-negara Barat, demikian disampaikan Ketua Komite Urusan Internasional Dewan Federasi Rusia Konstantin Kosachev dalam tulisan di blog-nya.

“Pencitraan yang sangat buruk mengenai Rusia dalam dokumen ini bukan beralasan dan bersumber dari Rusia, tapi dari Eropa, atau bisa dibilang dari Barat sendiri,” kata Kosachev.

“Munculnya resolusi semacam ini adalah refleksi kehadiran krisis serius dalam sistem Barat yang, seperti kita ketahui, telah menyentuh tidak hanya institusi, tapi juga nilai-nilai yang mereka pegang,” lanjut Kosachev.

Menurut Kosachev, Barat tak siap menerima ‘pluralisme media sebenarnya’. “Pada kenyataannya, mereka tidak sedang melawan fakta, tapi lebih pada melawan penilaian. Jika media internasional kami memungkinkan setiap distorsi faktual, jurnalis sudah sejak lama dibawa ke pengadilan dan dikecam di depan publik,” tutur Kosachev.

Sang politikus menilai anggota parlemen Uni Eropa hanya mempermalukan masyarakat mereka sendiri karena menganggap penduduk Eropa tak bisa menyaring dan menganalisis informasi dari media asing secara independen.

"Jangan Membalas"

Meski demikian, Kosachev menyarankan Rusia sebaiknya tidak mengambil tindakan yang sama terhadap jurnalis dan media Barat. “Rusia percaya bahwa ia benar. Kekuatan Rusia sebenarnya justru ada pada fakta bahwa ia memberikan sebuah pandangan alternatif tentang apa yang terjadi di dunia,” tambahnya. “Ini adalah pendekatan demokratis, dan saya hanya merasa senang atas pengaruhnya yang kuat di Barat, yang telah dikonfirmasi oleh resolusi lainnya terhadap ‘propaganda Rusia’, yang melawan opini bebas, tapi berbeda.”

Sementara, juru bicara Kementerian Luar Neger Rusia Maria Zakharova juga melancarkan kritik keras atas langkah Uni Eropa dalam sebuah acara di stasiun televisi Rossiya 1, Rabu (23/11).

“Kami tidak pernah mendiskriminasi siapa pun. Saya rasa tidak seorang pun dapat menuding kami menindas siapa pun. Bahkan setelah segala headline di halaman depan yang mengerikan yang baru-baru ini kami lihat di seluruh Eropa dan AS,” kata Zakharova.

Menurut Zakharova, segala bentuk aktivitas media di Rusia hanya dapat dilarang jika media tersebut tidak terakreditasi, sedangkan ideologi dan laporan mereka tidak dijadikan pertimbangan.

“Kami menempatkan sertifikat akreditasi menjadi hal terpenting daripada kualitas laporan dan kecondongan media tersebut. Kami siap bekerja sama dengan seluruh jurnalis tanpa menilai mereka dari sudut pandang apa pun,” Zakharova menekankan.

Zakharova kemudian mengatakan bahwa resolusi Parlemen Eropa tentang melawan propaganda negara lain merupakan ‘kejahatan informasi’.

“Ini adalah sebuah kejahatan karena mereka mengalihkan perhatian komunitas dunia dari ancaman nyata terorisme, ekstremisme, serta etnisme dan xenophobia,” kata Zakharova.

Pemblokiran Media Rusia 

Parlemen Uni Eropa meloloskan rancangan resolusi untuk memblokir kantor berita Sputnik dan stasiun televisi Russia Today (RT) berkaitan dengan perlawanan terhadap propaganda ISIS. Resolusi itu diajukan oleh salah seorang anggota parlemen Uni Eropa bidang komunikasi strategis Uni Eropa dari Polandia, Anna Elzbieta. Sputnik mengabarkan, resolusi itu ditujukan untuk menangkal propaganda terhadap UE oleh pihak ketiga, yang menyatakan bahwa Rusia diduga terlibat dalam propaganda melawan Uni Eropa.

Rancangan resolusi tersebut mengklaim bahwa Rusia diduga menyediakan dukungan dana pada pihak dan organisasi oposisi politik dari negara anggota Uni Eropa serta menggunakan hubungan bilateral antarnegara untuk memecah blok tersebut.

Kantor berita Sputnik, stasiun TV RT, Yayasan Russkiy Mir, Badan Federal Rusia untuk Persemakmuran Negara Merdeka (CIS) Compatriots Living Abroad, serta lembaga Kerja Sama Kebudayaan Internasional (Rossotrudnichestvo) dituduh sebagai ancaman informasi utama bagi Uni Eropa.

Menurut pengamat media Uni Eropa, tim sukses pelarangan informasi Rusia akan mendapat satu juta euro (sekitar 14 miliar rupiah) untuk membiayai kampanye anti-Rusia.

Dokumen rancangan yang tidak mengikat tersebut menyatakan bahwa Rusia diduga “mempekerjakan berbagai macam alat dan instrumen secara agresif” untuk melemahkan Uni Eropa. Demi melawan apa yang mereka sebut sebagai propaganda Rusia, dokumen tersebut meminta negara anggota Uni Eropa untuk bekerja sama dengan NATO dalam mengembangkan mekanisme komunikasi strategis yang terkordinasi dan melawan ancaman dalam bentuk yang berbeda.

+
Ikuti kami di Facebook