Kiev Berencana Luncurkan Misil di Atas Krimea, Moskow: Itu Melanggar Hukum

Latihan itu berpotensi mengulang kecelakaan pesawat, seperti tragedi Malaysia Airlines MH-17.
Ukrainian President Petro Poroshenko (C) listens to Chief of Staff of Ukraine's Armed Forces Viktor Muzhenko (2nd R)
Presiden Ukraina Petro Poroshenko (tengah) sedang mendengarkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ukraina Viktor Muzhenko (kedua dari kanan) saat mereka mengunjungi sebuah unit militer di desa Vodyane, Ukraina, 24 Juni 2016. Sumber: Reuters

Ukraina akan menggelar latihan peluncuran misil di atas Krimea, di ruang udara negara Federasi Rusia, tanpa berkoordinasi dengan pemerintah Rusia, demikian dilaporkan Badan Transportasi Udara Federal Rusia Rosaviatsiya, seperti yang dikutip RT. Peluncuran misil tersebut akan melewati rute-rute penerbangan sipil dan negara sehingga berisiko terulangnya kecelakaan pesawat seperti tragedi Malaysia Airlines MH-17.

Pihak Rusia mengecam rencana Kiev yang dianggap melanggar sejumlah hukum dan kesepakatan internasional karena latihan militer tersebut tak hanya menginvasi wilayah Rusia, tapi juga tak dikoordinasikan dengan Moskow.

Pada Jumat (25/11), Kementerian Pertahanan Rusia menyuarakan protes terhadap rencana Kiev untuk menerapkan pembatasan ruang udara di atas Laut Hitam dan Semenanjung Krimea terkait latihan peluncuran misil. Kemenhan telah menghubungi atase militer Ukraina melalui nota diplomatik resmi.

Sehari sebelumnya, Ukraina telah mengumumkan untuk mengaktifkan 'zona berbahaya' pada semua level penerbangan di dekat Krimea dan kota Simferopol pada 1 – 2 Desember mendatang. Area 'berbahaya' tersebut termasuk ruang udara di atas laut terbuka, yang menjadi wilayah tanggung jawab Rusia, dan di ruang udara di atas wilayah perairan Rusia.

Pemberitahuan tersebut tak dikoordinasikan dengan pejabat Rusia terkait, terang Rosaviatsiya. "Hal ini menunjukkan ketidaksediaan Ukraina untuk menormalisasi lalu-lintas udara di atas Laut Hitam," terang pihak Rusia.

Melanggar Hukum

Kiev dianggap melanggar Kovensi Penerbangan Sipil Internasional 1944 dan diminta untuk segera membatalkan latihan yang direncanakan akan melewati ruang udara Rusia.

Staf Jenderal Tentara Ukraina menolak mengomentari hal ini. Kepala Kantor Humas Staf Jenderal Ukraina Vladislav Seleznyov menyampaikan bahwa lembaganya tak berkapasitas untuk mengomentari informasi tersebut, tulis TASS.

Sementara, Ketua Desan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Aleksandr Turchinov menyampaikan bahwa ruang udara Rusia di atas Laut Hitam berakhir di tengah Selat Kerch dan Kiev tak berencana menggelar latihan peluncuran misil di wilayah tersebut.

"Sisa wilayah di bagian barat Selat Kerch adalah wilayah berdaulat Ukraina," kata Turchinov seperti dikutip TASS, yang secara implisit menyanggah legitimasi Referendum Krimea pada 2014 lalu.

Membahayakan Penerbangan Sipil

Rencana latihan peluncuran misil tersebut berpotensi berbahaya bagi aviasi sipil, kata Rosaviatsiya, menambahkan bahwa hal itu bisa menciptakan tragedi seperti kecelakaan Malaysia Airlines MH-17 di ruang udara Ukraina pada 2014 dan penembakan pesawat penumpang RUsia di Laut Hitam pada 2001.

Investigasi kecelakaan MH-17 yang terjadi di Ukraina timur dan menewaskan 298 orang ini masih berjalan.

Insiden lain yang melibatkan misil militer di atas Laut Hitam terjadi pada Oktober 2001, ketika pesawat Siberia Airlines Tu-154 dari Tel Aviv menuju Novosibirsk ditembak jatuh oleh misil yang diluncurkan militer Ukraina dalam latihan, menewaskan 78 orang.

Rusia telah mengumumkan maskapai domestik dan internasional mengenai rencana Kiev, terang perwakilan Rosaviatsiya pada stasiun TV Rossiya 24. Ia menambahkan bahwa Rusia akan melakukan semua langkah untuk memastikan keamanan penerbangan dan akan melarang semua penerbangan ke wilayah Krimea jika Ukraina tak membatalkan keputusannya.

+
Ikuti kami di Facebook