Tak Selalu Sejalan: Tiga Hal yang Tak Disepakati Rusia dan Suriah

24 Juni 2016 Oleg Egorov, RBTH
Sejak awal dimulainya konflik Suriah, Rusia dipandang sebagai sekutu setia Bashar al-Assad. Rusia dianggap mendukung presiden Suriah dalam segala hal. Namun, posisi antara Moskow dan rezim Suriah masih jauh dari kata cocok. Rusia mendukung solusi politik untuk menyelesaikan krisis, sedangkan Assad berniat untuk tetap melanjutkan perang.
Putin Assad Syria
Tentara Suriah dan Rusia, yang mengawal sekelompok wartawan, berdiri di dekat sebuah mobil yang tertutup stiker foto wajah Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) Presiden Suriah Bashar Assad (kiri), dan seorang jenderal Suriah, yang merupakan saudara Presiden Assad, Maher Assad, (tengah) di Maarzaf, sekitar 15 kilometer di sebelah barat Hama, Suriah, Rabu, 2 Maret 2016. Sumber: AP

Rusia memberikan dukungan yang luas terhadap pemerintah Bashar al-Assad. Sejak awal dimulainya konflik Suriah, sudah empat kali Rusia memblokir rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap rezim Suriah. Rusia telah membantu Suriah menhancurkan senjata kimia, serta telah berulang kali mendukung posisi Assad dalam negosiasi internasional.

Bantuan Moskow sangat penting bagi Damaskus. Atas dukungan Angkatan Udara Rusia, tentara pemerintah Suriah berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya direbut ISIS, termasuk kota kuno Tadmur, yang kini berhasil berada di bawah kontrol pemerintah Suriah. Kini, serangan di “ibu kota” ISIS, Raqqa, tengah dilancarkan. Tanpa partisipasi Rusia, keberhasilan untuk merebut wilayah itu bisa dibilang tidak mungkin. Namun demikian, sejak awal ada kontradiksi serius antara Kremlin dan rezim Suriah. Setidaknya, ada tiga kontradiksi utama antara Moskow dan Damaskus, yaitu:

1. Perbedaan Tujuan

Hanya sebagian dari tujuan Rusia dan Assad terkait konflik Suriah yang sejalan. Demikian hal ini disampaikan peneliti senior di Institut Studi Oriental Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia Vladimir Akhmedov. “Kepentingan Rusia terletak dengan mempertahankan rezim sekuler di Suriah yang kemudian berlanjut pada kerja sama dengan Moskow,” kata sang ahli meyakini.

Pada saat yang sama, sebagaimana yang diyakini Akhmedov, Moskow tidak peduli apakah kekuasaan Assad sendiri akan bertahan, sementara bagi pemerintahan Assad, hal itu adalah masalah kunci. Perwakilan pemerintahan Suriah menolak untuk membahas pengunduran diri sang presiden sebagai syarat awal untuk “masa transisi” di bawah konvensi perjanjian Jenewa.

2. Assad Ingin Berperang

Akhmedov mengatakan bahwa dukungan Assad terhadap penyelesaian politik hanya sebatas perkataan saja. “Assad adalah seorang pria perang, ia akan berjuang sampai akhir,” kata sang Akhmedov. “Assad siap bernegosiasi hanya jika dia dapat mendikte oposisi dengan ketentuannya sendiri. Oleh karena itu, Assad membutuhkan kemenangan militer, serta perpindahan kembali sejumlah wilayah di bawah kendalinya.”

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh profesor di Universitas Humaniora Rusia Grigory Kosach, “Tak seperti Rusia, Assad tidak pernah melihat adanya kemungkinan negosiasi dengan wilayah oposisi. Ia selalu menyebut mereka dengan sebutan teroris yang bertindak di luar perintah.”

Bagi Rusia, berlanjutnya perang akan membahayakan karena hal itu akan meningkatkan risiko kerugian.”Rusia tidak bisa membiarkan eskalasi dan melibatkan sejumlah besar tentara Rusia dalam peperangan,” kata Vladimir Akhmedov. “Rusia berusaha bergerak menuju penyelesaian politik.”

3. Hubungan dengan Kurdistan

Posisi Moskow dan Damaskus tidak sejalan terkait masalah Kurdistan. Maret lalu, ketika Kurdistan Suriah mengumumkan pembentukan Otonomi Federasi Utara Suriah, Bashar al-Assad menentang langkah tersebut meskipun faktanya Kurdistan tidak menuntut kemerdekaannya dan hanya ingin mendapatkan otonomi. “Damaskus dengan tegas menolak setiap gagasan mengenai federalisasi karena takut dapat menghancurkan negara,” kata Gregory Kosach.

Dalam sengketa antara pemerintah Suriah dan Kurdistan, Rusia mengambil posisi netral. Juru Bicara Presiden Rusia Dmitry Peskov mengatakan bahwa, “Apa yang terjadi di dalam negara Suriah, itu adalah masalah Suriah.”

Menurut Profesor Kosach, Moskow dalam hal ini sangat berhati-hati: Kurdistan Suriah adalah sekutu yang efektif dalam memerangi ISIS, Rusia tidak berniat untuk bertengkar terkait permasalahan dengan Damaskus. Namun begitu, pada Februari lalu, di Moskow telah dibuka kantor perwakilan Kurdistan Suriah (tidak resmi, dibuka sebagai organisasi nonpemerintah).

Kontradiksi Tak Diumbar-umbar

Para ahli percaya bahwa meskipun terjadi kontradiksi antara Assad dan Rusia, Kremlin tetap memberikan dukungan terhadap presiden Suriah. “Rusia hingga saat ini tidak melihat orang lain yang dapat menggantikan Assad (dalam hal melindungi kepentingan Rusia), dan karena itu, Rusia akan mendukung semua inisiatifnya,” kata Kosach.

Seperti yang disampaikan Vladimir Akhmedov, jika Rusia terlalu menekan Assad, Assad bisa saja menolak seluruh kerja sama dan pergi di bawah sayap Iran. Iran, berbeda dengan Rusia, tidak mempertimbangkan kemungkinan perubahan rezim di Suriah, bahkan secara teori Iran sepenuhnya mendukung Assad. Dalam hal ini, para ahli menganggap bahwa Moskow tidak berusaha untuk mengkritik rezim Suriah dan menunjukkan upaya pendekatan, meski terjadi ketidaksepakatan.

 
+
Ikuti kami di Facebook