Capai Kesepakatan, Rusia dan AS Minta Damaskus Hentikan Serangan Udara

12 September 2016 Alexander Bratersky, Gazeta.ru
Setelah pembicaraan panjang selama 14 jam di Jenewa, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar AS Negeri John Kerry mengumumkan bahwa kesepakatan untuk memberlakukan gencatan senjata di Suriah telah ditandatangani. Di satu sisi, pencapaian ini bisa dikatakan sebagai terobosan dalam "kesepakatan untuk menyelesaikan krisis Suriah." Namun, karena banyaknya pemain yang terlibat dalam konflik, tak ada yang bisa memberikan jaminan penuh bahwa kesepakatan itu akan dilaksanakan.
Kerry and Lavroc
Menteri Luar AS Negeri John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov (kanan) membahas krisis Suriah selama pertemuan di Jenewa, Swiss, 9 September 2016. Sumber: Kevin Lamarque / Reuters

Moskow dan Washington telah mengembangkan rencana gabungan untuk menyelesaikan masalah di Suriah, kata Menlu AS John Kerry yang mengumumkan terobosan tersebut dalam sebuah konferensi pers setelah pembicaraan berjam-jam dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov. Rencana ini, kata Kerry, memproyeksikan penghentian pertikaian sepenuhnya, termasuk dalam hal serangan udara.

Menurut menlu AS, Pemimpin Suriah Bashar al-Assad harus menghentikan segala aksi militer angkatan udaranya, termasuk dalam melancarkan serangan udara, demi menghentikan penyebaran kekerasan. Menlu Kerry mengatakan, serangan udara yang "membabi buta" hanya menambah penderitaan warga sipil.

Kedua menteri pun mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik untuk bergabung dalam gencatan senjata mulai Senin (12/9). Kerry mengatakan, jika gencatan berhasil dijalankan, Moskow dan Washington akan terus melancarkan serangan terhadap pasukan teroris.

Sementara itu, Lavrov mengatakan bahwa kesepakatan yang ditandatangani terdiri dari lima paket dokumen. Namun demikian, sang menlu tak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dokumen-dokumen tersebut. Dokumen-dokumen ini diharapkan dapat menjadi dasar pembentukan suatu pusat gabungan yang akan memisahkan kelompok oposisi moderat Suriah dari kelompok teroris.

Kesepakatan ini, yang dihasilkan setelah pembicaraan panjang antara perwakilan kedua negara selama bertahun-tahun, dapat dianggap sebagai suatu terobosan nyata.

Pizza dan Vodka

Berbagai media memprediksi bahwa pembicaraan panjang antara kedua diplomat bisa jadi berbuah kesuksesan. Berbagai kantor berita melaporkan bahwa kedua diplomat telah menawarkan pizza dan vodka kepada para wartawan. Delegasi AS menyajikan pizza kepada para wartawan, sementara delegasi Rusia menyajikan vodka kepada para jurnalis AS, kata Lavrov.

Sesaat sebelum dimulainya pembicaraan, AS sempat mengubah bahasa diplomasinya menjadi bahasa ultimatum. Kerry menggambarkan pertemuan dengan Lavrov sebagai kesempatan terakhir AS untuk mencapai kesepakatan dan bahwa kesepakatan itu harus dilakukan dengan 'cara' Washington. Namun hingga menit-menit terakhir, tidak jelas apakah kedua pihak akan mencapai kesepakatan sebagaimana yang Kerry konsultasikan panjang lebar dengan Gedung Putih, sementara Lavrov bahkan mengatakan bahwa pembicaraan akan berlanjut minggu depan.

Namun, jika kesepakatan itu memang memuaskan kedua belah pihak, hal ini mungkin bisa memberikan perubahan drastis dalam kampanye Suriah — sebuah front baru yang bersatu melawan teroris pemberontak mungkin akan terbentuk.

Sebelumnya, AS mengatakan bahwa aksi bersama dengan Rusia dalam melawan ISIS tidak mungkin dilakukan kecuali pasukan pemerintah Suriah mengakhiri serangan mereka terhadap unit-unit kelompok yang disebut sebagai "oposisi moderat."

Sementara dari sisi Rusia, Moskow mengatakan bahwa "operasi antiteroris" dengan AS hanya mungkin dilakukan jika Washington bisa memisahkan unit "oposisi moderat" dari unit organisasi teroris, seperti Jabhat Fateh al-Sham yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhat al-Nusra. Moskow bahkan mencurigai Washington menggunakan kelompok-kelompok "oposisi moderat" untuk menggulingkan rezim Assad. Sebelumnya, AS pernah menyatakan bahwa hanya dibutuhkan dua minggu untuk menyelesaikan masalah Suriah.

Melibatkan Damaskus

Perjanjian gencatan senjata dan penghentian serangan udara oleh pasukan pemerintah Suriah menunjukkan bahwa Damaskus pun dilibatkan dalam perjanjian ini, dan Moskow berhasil menekan pemerintah Suriah sehingga kesepakatan ini bisa tercapai.

Pada saat yang sama, Assad pernah beberapa kali membuat peryataan publik yang menunjukkan ia tak sejalan dengan pemimpin Rusia dalam hal aksi militer. Presiden Suriah, yang menerima dukungan militer dari Teheran dan Moskow, dinilai tengah mencoba untuk menunjukkan kepada rakyatnya bahwa dialah yang memegang tongkat komando.

Di sisi lain, perlu dicatat bahwa kesepakatan antara Moskow dan Washington dicapai tak lama setelah keterlibatan Turki, yang telah mulai mengoperasikan militernya di Suriah. Turki berusaha menghalangi aktivitas ekstremis Islam dari sisi perbatasan Turki-Suriah di Provinsi Aleppo.

Iran, di lain pihak, juga memainkan peran penting dalam konflik Suriah karena milisi Syiah mereka berjuang bersama pasukan pemerintah Suriah. Namun hingga kini, belum ada kejelasan mengenai reaksi Teheran atas kesepakatan Rusia-AS dalam konflik Suriah.

Pada Februari lalu, Moskow dan Washington juga berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata di Suriah. Sayangnya, hal itu tak berlangsung lama. Karena itu, Theodore Karasik, seorang pengamat negara-negara Teluk yang tinggal di Washington, memperingatkan bahwa kesepakatan baru ini bukan tidak mungkin bernasib sama seperti kesepakatan yang dicapai pada Februari lalu antara Moskow dan Washington. Ia menekankan, kedua pihak harus mendefinisikan secara jelas, siapa yang disebut sebagai ekstremis dan siapa yang bukan.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Gazeta.ru.

 
+
Ikuti kami di Facebook