Lima Belas Tahun Tragedi 9/11: Kisah Tragis dari Kesaksian Orang Rusia

12 September 2016 Oleg Egorov, RBTH
Lima belas tahun lalu, 11 September 2001, gedung World Trade Center (WTC) New York hancur dalam sekejap akibat dihantam pesawat yang hingga kini diyakini secara luas sebagai tindakan sabotase yang dilakukan kelompok teroris al-Qaeda. Tragedi yang menewaskan hampir sekitar 3.000 orang itu, termasuk sekitar seratus orang penutur bahasa Rusia, praktis meruntuhkan keamanan dunia lama dan mengantar kita pada era baru ketidakstabilan dan konflik tiada ujung. Berikut adalah kesaksian beberapa warga asal Rusia yang menyaksikan langsung peristiwa nahas 15 tahun silam di Negeri Paman Sam.
9/11 memorial
Orang-orang sedang membaca nama-nama korban tragedi 9/11 yang tertulis pada sebuah monumem peringatan menjelang matahari terbit di Liberty State Park, Jersey City, New Jersey, 11 September 2015. Sumber: Reuters

Pada 11 September 2001, AS mengalami serangan teroris paling berdarah sepanjang sejarahnya ketika kelompok teroris al-Qaeda menghancurkan gedung World Trade Center di New York. Selain gedung WTC, serangan yang melibatkan empat pesawat penumpang itu juga merusak gedung Pentagon di Washington, D.C. secara signifikan. Akibat tragedi itu, yang kini dikenal sebagai tragedi 9/11, hampir sekitar 3.000 orang kehilangan nyawanya.

Sementara, informasi terkait berapa banyak warga negara Rusia dan warga negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya yang tewas dalam serangan itu sangat bervariasi. Ada 18 korban tewas asal Rusia nama-namanya diabadikan pada sebuah monumen di Taman Asser Levy di Brooklyn. Namun, sumber lain mengatakan bahwa sebenarnya ada lebih banyak warga Rusia yang menjadi korban. Menurut Valery Savinkin, pendiri Kelompok Keluarga 11 September, ada sekitar seratus orang penutur bahasa Rusia yang tewas dalam aksi teroris tersebut.

Menara selatan WTC New York mulai runtuh setelah serangan teroris. Sumber: Gulnara Samoilova/APMenara selatan WTC New York mulai runtuh setelah serangan teroris. Sumber: Gulnara Samoilova/AP

Valery Savinkin, seorang imigran asal Odessa, Ukraina, kehilangan putranya yang berusia 21 tahun pada serangan 11 September. "Saya benar-benar melihat semuanya dengan mata kepala saya sendiri, bukan dari televisi," kata Savinkin kepada stasiun televisi Rusia Channel 5 pada 2015 (ia melihat kobaran api dan runtuhnya menara dari jendela gedung yang berada tak jauh dari WTC). "Saya melihat bagaimana, pertama, menara selatan runtuh, lalu diikuti menara utara." Keluarga Savinkin telah mempertahankan bentuk dan penataan kamar anak mereka sebagaimana yang putra mereka tinggalkan pada 11 September 2001. Setiap kali mereka melakukan perjalanan, mereka membawa suvenir untuk diletakkan di meja putra mereka.

Foto Hitam Putih

Segera setelah Gulnar Samoilova, seorang Rusia asal Ufa (sekitar 1.160 km dari timur Moskow) yang bekerja sebagai editor foto di Associated Press di New York, mengetahui aksi teroris itu, dia langsung meraih kameranya dan bergegas ke tempat orang-orang berhamburan dan berlari menjauh dari gedung WTC. Samoilova berhasil mengambil foto menara pertama yang runtuh dan kemudian gelombang reruntuhan puing-puing bangunan dan debu yang bertebaran di sekitar lingkungan. Namun, ia terjatuh. "Tidak ada apa-apa selain kegelapan. Saya mulai merasa tercekik, dan berpikir bahwa saya telah terkubur hidup-hidup," katanya seperti yang dikutip RIA Novosti. Namun ternyata, ia tak terluka dan kembali memotret.

Orang-orang berjalan di tengah puing-puing dekat gedung WTC New York yang runtuh pada Selasa, 11 September 2001. Sumber:  Gulnara Samoilova/APOrang-orang berjalan di tengah puing-puing dekat gedung WTC New York yang runtuh pada Selasa, 11 September 2001. Sumber: Gulnara Samoilova/AP

Samoilova mengambil foto dengan film berwarna, tapi ternyata foto yang dihasilkan justru berupa foto hitam putih. Debu semen dari reruntuhan gedung membuat seluruh Pulau Manhattan menjadi dwiwarna. Keesokan harinya, foto-foto Samoilova, yang menunjukkan orang-orang tengah berlari ketakutan sambil mencari orang-orang terdekat atau kerabat mereka, muncul di semua sumber media massa internasional. Namun bagi Samoilova, tekanan yang telah ia lalui terlalu berat: setelah tragedi 9/11 ia meninggalkan dunia jurnalisme. Pada saat tragedi itu terjadi, Samoilova tidak mengambil foto para korban tewas dan mereka yang melompat keluar dari Menara Kembar yang terbakar. "Saya tidak bisa melakukannya," kata Samoilova.

Kepanikan dan Nasib Mujur

Grigory Vishnyakov, seorang pengusaha, baru saja tiba di Manhattan (tempat ia tinggal) dari New Jersey, ketika ia mendengar berita serangan teroris. Dalam sebuah wawancara dengan Social Control, ia mengatakan bahwa saat itu terjadi kepanikan yang luar biasa di kota. "Beberapa orang bodoh mengirimkan pesan bahwa bangunan lain di kota itu juga telah dipasangi bom. Itu bodoh sekali."

Orang-orang berjalan di tengah puing-puing dekat gedung WTC New York yang runtuh pada Selasa, 11 September 2001. Sumber:  Gulnara Samoilova/APOrang-orang berjalan di tengah puing-puing dekat gedung WTC New York yang runtuh pada Selasa, 11 September 2001. Sumber: Gulnara Samoilova/AP

Sang pengusaha ingat bahwa pada 11 September dua orang temannya secara kebetulan tidak pergi ke WTC, tempat mereka bekerja. "Salah satu teman memiliki kantor di salah satu menara kembar. Pada malam sebelum serangan itu terjadi, ia minum terlalu banyak di restoran Samovar Rusia dan bangun pukul satu siang. Dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa ia telah melewatkan setengah hari kerja. Namun, ketika ia mengetahui apa yang terjadi pada WTC, dia sadar bahwa dia telah dilahirkan kembali."

Teman Vishnyakov yang lainnya adalah seorang pria bernama Vinogradov. Pada hari runtuhnya WTC, Vinogradov tengah mengendarai mobilnya menuju kantor. Namun di tengah jalan, polisi menyuruhnya berhenti karena mengebut. Beberapa minggu kemudian di pengadilan, ia mengucapkan terima kasih kepada polisi yang menilangnya, yang sesungguhnya telah menyelamatkan hidupnya.

Persatuan dalam Menghadapi Ketakutan

Pada September 2001, Veronika Kutsyllo, seorang jurnalis yang bekerja di surat kabar Kommersant, datang ke New York dengan ibunya untuk berlibur. Seperti kebanyakan orang Amerika dan wisatawan yang berada tak jauh pada lokasi serangan, dia menyaksikan serangan teroris dari atap gedung pencakar langit di Manhattan, tempat ia tinggal.

"Ketika kami menyaksikan menara kembar terbakar dan melihat menara pertama jatuh, saya mengucapkan 'Oh, my God!', sedangkan ibu saya mengucapkan 'O, Gospodi!' (Oh, Tuhan!) pada waktu yang hampir bersamaan," tulis Kutsyllo di surat kabar. Namun demikian, ia mengaku kagum dengan atmosfer persatuan di kota New York pasca-9/11, baik di antara warga maupun para wisatawan. "Ketika Anda mengalami sesuatu seperti ini bersama dengan orang-orang Amerika, Anda akan mengerti bahwa mereka sama persis seperti kita," tulisnya.

Perubahan Tak Terelakkan

"Segera setelah itu (setelah semua orang tahu mengenai aksi terorisme -red.), teman-teman kami segera datang ke tempat kami dan kami semua mulai berbicara seperti berada di dapur Moskow," kata Alexei Pimenov, yang pada 2001 mengajar Sejarah Rusia di Universitas George Mason, kepada Voice of America.

Pimenov mengatakan bahwa reaksi pertama dirinya dan teman-temannya setelah kejadian itu adalah kebingungan: "Apa yang akan terjadi sekarang? Perang? Dengan siapa? Dan bagaimana hal itu akan mengubah segala sesuatu di sekitar kita? Apa yang akan terjadi setelah itu?" Bagi Pimenov, makna historis atas peristiwa tragis itu hingga kini tak menemukan titik terang.

 
+
Ikuti kami di Facebook