Bagaimana Vladimir Putin Membentuk Elit Politik?

Presiden Rusia Vladimir Putin sedang bereksperimen dan mencari opsi-opsi baru untuk pendukung ideologi dan perekrutan staf karena ‘rombongan’ terdekatnya mulai menyusut. Para pakar menilai hal ini akan berdampak terhadap perombakan atau bahkan ‘reset’ total sistem pemerintahan yang ada saat ini.
 Russian President Vladimir Putin, centre, flanked by Defense Minister Sergei Shoigu, left, and Federal Security Service Chief Alexander Bortnikov
Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah) diapit oleh Menteri Pertahanan Sergei Shoigu (kiri) dan Kepala Dinas Keamanan Federal Alexander Bortnikov. Sumber: AP

Presiden Rusia Vladimir Putin tengah berupaya membentuk lingkaran penasihat dan pendukungnya dalam rangka mengonsolidasikan sistem politik yang telah sang presiden buat. Demikian hal tersebut disimpulkan para penyusun laporan Politbiro 2.0 yang dirilis perusahaan komunikasi Minchenko Consulting.

Dalam laporan lembaga tersebut, disebutkan bahwa sejak 2012 Presiden Putin telah membentuk sebuah instrumen pemerintahan informal yang menyerupai politbiro Soviet dalam berbagai hal. 

Politbiro berfungsi sebagai pembuat kebijakan pusat dan badan pelaksana Partai Komunis Uni Soviet.

Anggota politbiro secara praktis adalah para manajer papan atas pemerintah Rusia, yang bertanggung jawab untuk administrasi dan lingkup kerja mereka masing-masing. Putin sendiri menjadi penengah dalam “Politbiro 2.0”. Ia menyelesaikan semua sengketa dan secara berkala membagikan kembali pengaruh di dalamnya.

“Istilah ‘Politbiro 2.0’ berarti sebuah struktur jaringan informal untuk mengoordinasikan kepentingan klan-klan elit utama yang menempatkan Vladimir Putin sebagai penengah dan sosok paling berpengaruh,” terang salah satu penulis laporan Kirill Petrov, seraya menambahkan bahwa ‘organ kekuatan informal’ ini merupakan mekanisme utama untuk menyelesaikan kontradiksi organisasi dan sektorial.

Dalam laporan tersebut, para penulis tak hanya membahas perubahan posisi anggota “Politbiro 2.0”, tapi juga bertanya apakah mungkin sang presiden merombak sistem pemerintahan yang sudah ada atau melakukan reset.

“Seorang Tawanan Rombongannya Sendiri”

Laporan itu juga menyinggung pengelompokan kembali pasukan eselon menengah dan tinggi di nomenklatura Rusia. Para peneliti menyebutkan adanya pengunduran diri beberapa perwakilan ‘pengawal lama’ Putin, seperti mantan Direktur Administrasi Kepresidenan Sergei Ivanov dan mantan Kepala Russian Railways Vladimir Yakunin; aktivasi agenda antikorupsi dan penerapannya di kalangan dalam elit-elit tersebut, termasuk terhadap departemen antikorupsi, rotasi dan reformasi dalam struktur penegak hukum; serta pembaruan personel Majelis Rendah Parlemen (Duma).

Nomenklatura

Nomenklatura adalah kategori individu di Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur lainnya yang memegang berbagai posisi kunci administratif dalam birokrasi yang menjalankan kegiatan negara: pemerintahan, industri, pertanian, pendidikan, dan sebagainya, yang posisinya hanya diberikan dengan persetujuan oleh partai komunis dari masing-masing negara atau wilayah.

Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa salah satu alasan perubahan adalah karena ‘ketidaksediaan Putin menjadi tawanan rombongannya sendiri’. Sang presiden, menurut para penulis laporan, mencoba untuk membentuk koalisi pemilu serta konfigurasi kekuasaannya di masa depan secara otonom dan dalam basis kompetitif. Untuk melakukan hal itu, ia perlu melemahkan “Politbiro 2.0” itu sendiri.

Memang, sudah ada pengelompokan ulang kekuatan di kalangan elit. Sebagian besar anggota “Politbiro 2.0” telah melemah, sementara Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu semakin kuat di masa perang, sama seperti Direktur Garda Nasional Rusia yang baru Victor Zolotov. Para penulis juga menyebutkan bahwa aksi Putin biasanya sesuai dengan logika ‘checks and balances’.

Teknokrat Muda untuk Gelombang Selanjutnya

Putin saat ini sedang mempelajari sejumlah opsi untuk ‘dukungan ideologi dan perekrutan staf’ demi mempersiapkan putaran kepresidenan selanjutnya.

Para penulis menyebutkan bahwa sang presiden tengah menguji para teknokrat muda (Kepala Administrasi Kepresidenan Anton Vaino, Menteri Industri dan Perdagangan Dmitry Manturov), “para pangeran” dari keluarga elit yang memosisikan dirinya sendiri sebagai teknokrat (Gubernur Wilayah Moskow Andrei Vorobiev), orang yang dekat dengannya (Gubernur Tula Alexei Dyumin, yang sejak lama bekerja dalam pengawal kepresidenan), serta para aktivis sosial dan partai.

“Selain itu, menilai dari pemilihan staf terakhir, sebagai titik referensi (namun tak harus yang bisa dicapai), Putin menggunakan putaran pertamanya, yang di situ ia melakukan sejumlah reformasi ekonomi liberal dan menormalisasi hubungan dengan Barat,” kata laporan tersebut.

Komunikasi Efektif dengan Barat

Salah satu prediksi yang dibuat para penulis laporan adalah setelah upaya menciptakan dialog dengan Barat secara kolektif akhir-akhir ini terbukti sia-sia, orang-orang yang memiliki potensi signifikan adalah mereka yang memiliki kemungkinan untuk ‘berkomunikasi secara efektif dengan Eropa dan AS’.

Di antaranya ialah Kepala Pusat Pengembangan Strategis Alexei Kudrin dan mantan Kepala Administrasi Kepresidenan Alexander Voloshin.

Analis politik Alexei Makarkin menyebutkan bahwa sistem saat ini didasarkan tak hanya pada prinsip checks and balances. “Maksud saya, Putin tak butuh klan yang kuat. Segera setelah tujuan tercapai, orang yang ditunjuk akan pulang. Ini adalah sistem yang saat ini paling cocok baginya.”

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Gazeta.ru.

+
Ikuti kami di Facebook