Di Bawah Trump, Tiongkok Bisa Geser Rusia Sebagai Musuh Utama AS

Perubahan kebijakan AS, yang mungkin segera terjadi, akan mengubah hubungan Washington dengan dunia secara signifikan. Janji-janji Donald Trump semasa kampanye untuk bersikap keras terkait perdagangan dengan Tiongkok mungkin menjadi sinyal masamnya hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia di masa depan. Sementara, berbagai pernyataan positif sang presiden terpilih mengenai Rusia mungkin dapat menghangatkan hubungan Washington dengan Moskow.
Guinness World Record
Beijing berharap Trump memberi garis besar posisi yang jelas dalam beberapa isu sensitif pada hubungan bilateral yang berkaitan dengan keamanan. Sumber: Reuters

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS akan membawa perubahan dalam hubungan Amerika dengan negara-negara lain. Perubahan konfrontasi global dalam ekonomi dunia membuat persaingan antara Washington dan Beijing tak terhindarkan. 

Trump, yang melihat kepentingan nasional sebagai perlindungan terhadap pasar Amerika, hendak menerapkan langkah perlindungan terhadap Tiongkok, yang mengguncang perekonomian AS dengan serius. Hal ini memberi Rusia kesempatan baru pencabutan sanksi dan secara bertahap memperbaiki hubungan dengan Barat.

Meski masih tersisa dua bulan sebelum serah-terima jabatan di Washington, dunia bersiap menyambut kedatangan pemimpin baru Amerika. Vladimir Putin merupakan salah satu pemimpin dunia pertama yang memberi ucapan selamat pada Donald Trump atas kemenangannya. Para pejabat Moskow secara terbuka menyampaikan kepuasan mereka terhadap perubahan kekuatan di Washington.

Tiongkok Jadi Berhati-hati

Di sisi lain, reaksi Beijing terkesan lebih hati-hati. Juru Bicara Menteri Luar Negeri Tiongkok Lu Kang menyampaikan harapannya bahwa pemimpin AS ‘akan memandang hubungan ekonomi dan perdagangan antara kedua negara secara objektif’. 

Ia merespons permintaan jurnalis untuk memberi garis besar posisi Beijing atas beberapa pernyataan keras yang disampaikan Trump di masa kampanyenya. Intinya ialah dividen utama dari perdagangan bilateral jatuh ke tangan Beijing, bukan Washington. Trump lebih dari sekali menegaskan bahwa jika ia terpilih menjadi presiden ia akan mengubah sistem di negaranya dengan secara aktif melindungi kepentingan bisnis Amerika.

“Jika itu tak menguntungkan kedua negara, mustahil untuk mencapai level perdagangan semacam ini. Oleh karena itu, kerja sama perdagangan dan ekonomi antara Tiongkok dan AS menguntungkan kedua pihak,” kata Lu. Ia menambahkan bahwa tahun lalu perdagangan bilateral kedua negara mencapai angka 560 miliar dolar AS.

Pihak Beijing berharap Trump memberi garis besar posisi yang jelas dalam beberapa isu sensitif pada hubungan bilateral yang berkaitan dengan keamanan, tutur sang diplomat. Hal itu termasuk penempatan sistem pertahanan misil THAAD AS di Korea Selatan dan sengketa wilayah di Laut Tiongkok Selatan.

Trump Lebih Pragmatis

Para pakar yakin bahwa terpilihnya Trump akan membuka prospek bagi Rusia agar tak lagi dianggap sebagai musuh potensial utama Amerika.

“Di Tiongkok, memang ada kekhawatiran bahwa di bawah pemerintahan Trump hubungan Washington dan Beijing akan mengalami kemunduran dan hal itu cukup beralasan, meski skenario tersebut tak bisa dianggap pasti,” kata kepala peneliti di Institut Timur Jauh Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAN) Alexander Lomanov.

Sang pakar menyebutkan bahwa sejak masa pemerintahan Barack Obama, sudah ada sejumlah kontradiksi politik yang terakumulasi dalam hubungan antara kedua negara. Kontradiksi tersebut berhubungan dengan situasi di Laut Tiongkok Selatan, kebutuhan untuk melindungi sekutu Asia dari ‘ancaman Tiongkok’, tensi di sekitar Hongkong, dan masalah-masalah lainnya.

Menurut pakar dari Dewan Hubungan Luar Negeri Rusia Maxim Suchkov, Moskow tertarik untuk melihat bagaimana di bawah pemerintahan AS yang akan datang, ‘sistem baru prioritas keamanan nasional yang di situ Rusia tidak diposisikan sebagai ancaman utama’.

Pada saat yang sama, Kepala Pusat Timur-Barat-Rusia Vladimir Sotnikov juga sepakat dengan pendapat tersebut. “Ingatkah Anda apa yang disebut Barack Obama sebagai musuh utama Amerika? Rusia, ISIS, dan Ebola,” katanya seraya meyakini bahwa Trump sepertinya tak akan menggunakan pendekatan yang sama. 

“Ia lebih pragmatis daripada idealis. Ia sadar bahwa Rusia tak menciptakan ancaman bagi kepentingan vital AS. Kepentingan tersebut tak terletak pada bekas Uni Soviet, di Ukraina, melainkan di wilayah yang benar-benar berbeda,” kata Sotnikov. 

“Artinya, ada jalur untuk membuka dialog dengan Moskow dan mungkin akan ada perubahan geopolitik, yang tak akan pernah disetujui oleh pemerintahan Demokrat di Gedung Putih,” katanya menyimpulkan. 

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Kommersant.

+
Ikuti kami di Facebook