Trump Menangi Pilpres, Akankah Politik Luar Negeri AS Berubah 180 Derajat?

Hasil pemilihan presiden AS berhasil membawa Trump ke Gedung Putih sebagai presiden AS ke-45. Meskipun hasil pilpres ini mengejutkan banyak pihak — terutama bagi sebagian besar media yang sepertinya sudah terlanjur menjagokan Clinton sebagai penerus Obama — bagi Rusia, kemenangan Trump memberikan angin segar untuk prospek kerja sama yang lebih berbuah positif
 Donald Trump Vice presidential candidate Gov. Mike Pence
Presiden terpilih AS Donald Trump (kiri) dan wakilnya Mike Pence. Sumber: AP

Pesta demokrasi yang digelar serentak di 50 negara bagian AS pada 8 November lalu ditutup dengan kemenangan Donald Trump dari Partai Republik dengan dukungan 290 suara elektoral, mengungguli rivalnya Hillary Clinton yang hanya meraup 232 suara elektoral.

Trump resmi terpilih menjadi presiden AS ke-45 menggantikan Barack Obama. Kemenangan tersebut menandai kembalinya kebijakan fundamentalis AS di bawah slogan “Make America Great Again”. 

Sepanjang pemerintahan Obama, roda pemerintahan Washington berjalan sangat liberal. Kebijakan pro NATO yang berujung pada kampanye anti-Rusia dari Amerika sudah berlangsung selama hampir delapan tahun terakhir. Trump paham akan hal ini dan memanfaatkan celah tersebut.

Kini, terpilihnya Trump tak hanya berpengaruh bagi rakyat Amerika, tapi juga memberi kilatan cahaya bagi negeri lain, yakni Rusia. 

Tak Tunduk pada NATO 

Perihal kebijakan politik luar negeri AS, Trump memilih berseberangan dengan NATO, berbeda dengan sikap Clinton yang ingin mempertahankan status quo terhadap aliansi tersebut. Bagi Trump, perlindungan terhadap aktivitas negara NATO hanya akan diberikan jika hal itu terbukti memberi keuntungan bagi kepentingan AS. 

Kebijakan “America First” ini dilandasi oleh kekecewaan Trump terhadap intervensi AS yang menyebabkan krisis berkepanjangan di Suriah dan Irak. Konstelasi konflik yang berkepanjangan telah memakan banyak korban jiwa dan harta. Krisis inilah yang menimbulkan gelombang imigran besar-besaran dari Timur Tengah, Afganistan hingga Ukraina — suatu hal yang sangat Trump tidak inginkan. Melihat semakin lesunya kondisi perekonomian global saat ini, sudah sepantasnya perang segera diakhiri. 

Trump juga menegaskan harus ada “pelunakan” sikap terhadap Rusia dan Tiongkok. Sang presiden terpilih gemar memberikan pujian kepada sosok Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, Trump memuji karakter tegas sebagai salah satu keunggulan Putin.

Moskow wajib diberi kesempatan untuk duduk bersama dengan Washington dalam posisi yang lebih seimbang, bukan sebatas formalitas undangan. Dialog yang konstruktif dan moratorium persenjataan, suatu hal yang alpa dilakukan oleh Obama, harus segera dimulai.

Lembaran Baru Hubungan AS-Rusia 

Kremlin sendiri mengapresiasi terpilihnya Trump sebagai orang nomor satu di Amerika. “Rusia menghormati pilihan rakyat AS,” kata pemimpin Partai “Rusia yang Adil” Sergei Mironov seperti dikutip TASS. Mironov mengaku menantikan sepak terjang Trump setelah ia dilantik pada Januari nanti. 

Berkaca pada sejarah, hubungan AS-Uni Soviet (Rusia) selalu lebih cair saat presiden dari Partai Republik yang memimpin AS, dibanding jika AS dikuasai oleh Partai Demokrat.

“Baik George W. Bush dan Trump dianggap tidak memiliki prasangka antagonis terhadap Putin,” papar Mironov. Jika Clinton yang terpilih menjadi presiden AS, tentu ia tak akan memasang senyum manis untuk Putin dengan kebijakan nuklirnya. Naiknya Trump adalah langkah awal yang baik. 

Lembaga kajian kebijakan luar negeri AS Brooking Institution juga mengharapkan hal serupa. Lembaga tersebut menyadari bahwa di akhir masa pemerintahan Obama, eskalasi hubungan AS-Rusia mencapai titik terendah sejak era Perang Dingin berakhir. Mulai dari kekacauan di Ukraina, Krimea, hingga memanasnya situasi Baltik saat ini. Jelas perlu langkah langkah nyata untuk menetralisir hubungan tersebut. 

Tingginya tensi hubungan Rusia-NATO terwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari perang informasi di media hingga pamer kekuatan militer skala kecil, seperti yang terjadi Oktober lalu di kawasan Baltik. NATO tentu memiliki agenda yang sejatinya selalu waspada terhadap segala manuver militer Rusia, demikian pun sebaliknya. AS sebagai sekutu terdekat wajib bersikap netral dan tidak mudah terpancing yang berujung pada pecahnya perang baru. 

Kesuksesan Trump menunjukkan bahwa rakyat AS bersedia mengubah kebijakan mereka, baik dalam maupun luar negeri. Masyarakat dunia yang sempat ketar-ketir dengan manuver nuklir Rusia yang dianggap berbahaya bisa sedikit bernafas lega. Dunia butuh kedamaian dalam lesunya perekonomian global. 

Terpilihnya Trump memang mengejutkan bagi banyak pihak, tapi bagi Rusia hal ini memberikan angin segar untuk prospek kerja sama yang lebih berbuah positif dan tanpa syak waksyangka berlebihan. Jadi, seperti slogan salah satu BUMN energi di Indonesia yang berbunyi “Mulai dari nol ya!”, demikianlah hubungan AS dengan Rusia periode Trump akan dimulai. 

Adri Arlan Sinaga menempuh pendidikan S1 di UGM, Yogyakarta. Rasa penasaran pada kawasan Eropa Timur membawanya melanjutkan pendidikan S2 di RUDN, Moskow, melalui beasiswa pemerintah Rusia. Gemar berdiskusi tentang isu-isu global, ASEAN, dan Eurasia. Saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Komunikasi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, mengajar mata kuliah Komunikasi Politik, Opini Publik, Metodologi Penelitian Komunikasi, dan Ilmu Politik. Ia dapat dikontak melalui surel ke alamat: adriarlan@gmail.com.

Artikel ini tidak merefleksikan opini resmi RBTH.

+
Ikuti kami di Facebook