Apa yang Akan Dilakukan Rusia Setelah Pembebasan Aleppo?

20 Desember 2016 Nikolay Litovkin, RBTH
Tentara Suriah berhasil merebut kembali kota Aleppo yang selama beberapa tahun terakhir dikuasai kelompok pemberontak dan dialog internal Suriah untuk negosiasi penyelesaian krisis telah dimulai. Meski demikian, beberapa pakar menilai akhir konflik masih belum terlihat.
 Aleppo
Dua orang prajurit dari pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad berdiri di atas tank yang hancur di dekar masjid Umayyad di wilayah Aleppo yang dikuasai pemerintah, 13 Desember 2016. Sumber: Reuters

Pemerintah Suriah telah merebut kembali wilayah Aleppo timur, demikian disampaikan Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Vitaly Churkin. Menurut Churkin, anggota-anggota kelompok bersenjata yang tersisa telah meninggalkan daerah tersebut melalui koridor kemanusiaan. Meski demikian, Churkin menyampaikan bahwa masih terlalu dini untuk bicara mengenai akhir fase aktif konfrontasi di negara yang telah dilanda perang selama bertahun-tahun tersebut.

"Untuk mengatakan bahwa konflik di Suriah akan segera berakhir, secara halus, itu bisa dibilang berlebihan. Masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui. Namun, saya harap semua dapat kembali ke kesepakatan semula yang diadopsi pada Desember tahun lalu mengenai resolusi terkait perlunya penyusunan konstitusi baru untuk Suriah serta pelaksanaan pemilu di bawah pengawasan masyarakat internasional," kata Churkin seperti dikutip TASS.

Menurut sang diplomat, setelah ini penting untuk melanjutkan rekonstruksi besar-besaran di Suriah yang telah hancur-lebur akibat perang saudara yang telah berlangsung enam tahun.

Langkah Politik

Setelah pembebasan Aleppo, Rusia akan mencoba untuk duduk di meja perundingan bersama perwakilan dari oposisi moderat dan memulai babak baru perundingan internal Suriah.

"Pada dasarnya, Tentara Suriah merebut ‘ibu kota’ oposisi bersenjata. Saat ini, kami memiliki semua prasyarat untuk melakukan langkah selanjutnya guna menemukan penyelesaian damai dengan pihak-pihak yang bersedia berdialog dan mampu mengambil keputusan," terang Kolonel (Purn.) Mikhail Khodorenok yang juga merupakan analis militer dari media Gazeta.ru dalam wawancaranya bersama RBTH.

Namun menurut Khodorenok, untuk saat ini Rusia pertama-tama harus menjamin keselamatan dan keamanan para warga sipil di Aleppo.

Aksi Pasukan

Lebih dari seratus tentara dari pasukan khusus Rusia telah melakukan operasi pembersihan ranjau di kota Aleppo, terang pakar militer dari Izveztia Aleksey Ramm kepada RBTH.

Ramm menjelaskan, perwakilan dari Kementerian Pertahanan Rusia juga berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan untuk warga yang terkena dampak peperangan dengan memberikan bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan, dan lain-lain.

"Kini kita harus menjaga agar kota Aleppo tetap berada di bawah kontrol dan kita perlu membangun titik akses yang ketat. Kelompok pemberontak tidak boleh diizinkan untuk kembali muncul," kata sang analis.

Ia yakin kehadiran pasukan Rusia akan memperkuat posisi tentara Suriah di sekitar kota.

Lebih lanjut, Khodorenok memprediksi pasukan siap tempur Tentara Suriah akan dikirim dari Aleppo ke Tadmur.

Medan Perang Baru

Setelah Aleppo, Komando Pasukan Kedirgantaraan Rusia siap untuk melanjutkan perjuangan pembebasan kota besar lainnya, yakni Deir ez-Zor.

Namun, hanya dalam tiga hari, empat ribu anggota ISIS membuat Tentara Suriah mundur dari Tadmur dan kembali menguasai kota bersejarah tersebut.

"Saat ini, mereka sedang meninjau semua rencana taktis dan kemudian komando akan mengambil keputusan bagaimana melancarkan operasi pembebasan daerah tersebut. Jangan masuk ke Deir ez-Zor melalui Tadmur, atau Anda akan berhadapan dengan empat ribu milisi ISIS di belakang Anda," kata Ramm memperingatkan.

Menurut Ramm, dengan jatuhnya Tadmur ke tangan teroris, kini milisi mendapat akses baru, termasuk ke pangkalan udara Diyaz yang berada di sebelah barat kota tersebut.

"Agar bisa melancarkan operasi di Deir ez-Zor dengan sukses, pasukan tentara harus menjaga Aleppo dan Tadmur. Hanya dengan cara itulah, militan-militan ISIS bisa terkepung, bagian belakang kota akan aman, dan para teroris bisa diusir dari sana," papar Ramm.

Pada saat yang sama, menurut para ahli, penting untuk memahami cara membangun hubungan militer-politik Suriah dengan koalisi Barat.

Kerja Sama dengan AS

Menurut Wakil Direktur Institut AS dan Kanada di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAN) Mayor Jenderal (Purn.) Pavel Zolotarev, kerja sama antara Rusia dan AS bisa meningkat jika jabatan menteri pertahanan Amerika Serikat diberikan pada James Matti, mantan komandan operasi "Enduring Freedom" AS di Afganistan.

"Jelas, ia memiliki pengalaman perang yang baik, sehingga ia bisa mengatur operasi militer dari koalisi Barat dengan kami di Suriah. Saya harap ini akan memperluas kerja sama militer dan bukan hanya retorika politik 'teman-atau-musuh'," kata Zolotarev.

Menurut Ramm, kerja sama militer dapat dibangun mirip seperti awal operasi militer AS di Afghanistan pada 2001 lalu, ketika komunitas intelijen kedua negara berbagi data mengenai posisi teroris di berbagai bagian negara itu.

"Saya tidak berpikir bahwa ini akan membawa kami pada perencanaan operasi bersama, tetapi kami tidak akan menghalangi langkah satu sama lain. Namun, ada kemungkinan terjadi perubahan yang radikal. Amerika akan menangani pasukan ISIS di Irak Utara, dan Rusia sepenuhnya akan berurusan dengan sisa kelompok teroris di Suriah," kata sang ahli.

+
Ikuti kami di Facebook