Pro-Kontra, Desa-desa Chechnya Usir Kerabat Militan untuk Berantas Teroris

23 Februari 2017 Gleb Fedorov, RBTH
Sejak awal tahun ini, banyak desa di Chechnya mengadakan perkumpulan untuk mengusir warga yang berkerabat dengan para pelaku teroris dan militan. Namun, pakar percaya bahwa pengusiran ini bukanlah metode yang efektif karena teroris, seperti ISIS, cenderung memutus hubungan dengan keluarganya sebelum “berjihad”.
Chechnya
Orang-orang perlu mengetahui perbedaan terorisme seperti ISIS, yang didorong oleh alasan agama, dengan gerakan separatisme Chechnya pada 1990-an. Sumber: Reuters

Sejak awal tahun ini, sejumlah desa di Chechnya (jumlah tepatnya tak diketahui, tapi lebih dari sepuluh) menggelar pertemuan untuk mengusir anggota keluarga serta kerabat orang-orang terduga pelaku teroris dan militan.

Menurut Kavkazki Uzel, situs berita yang khusus membahas peristiwa di Kaukasus, pertemuan itu juga dihadiri oleh perwakilan pejabat pemerintahan, otoritas penegak hukum, dan ulama.

Menurut Aleksandr Iskandaryan, direktur Institut Kaukasus yang terletak di Yerevan, pertemuan itu diadakan “akibat terjadinya sejumlah serangan terhadap polisi di Chechnya pada Desember – Januari dan meningkatnya gerombolan bandit bawah tanah”.

Praktik menekan sanak saudara para pemberontak semacam ini bukanlah hal baru di Chechnya, ujar para ahli kepada RBTH. Metode seperti ini sudah ada sejak perang Chechnya pertama dan kedua untuk menjauhkan para militan dari separatisme dan kembali berpihak ke sisi pemerintah.

Praktik ini terus berlanjut bahkan setelah 2014, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin melarang Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov mempraktikkan “hukuman sebelum persidangan” semacam ini. Kadyrov kemudian menulis di Instagram-nya: “Masa-masa ketika para orangtua yang lalai terhadap anak-anak mereka telah berakhir. Di Chechnya, mereka akan bertanggung jawab!”

Para ahli yang diwawancara RBTH percaya bahwa perkumpulan warga semacam ini merefleksikan keinginan para otoritas di Chechnya untuk mengesahkan praktik pengusiran. Para ahli memperingatkan bahwa metode seperti itu tidak efektif dalam menghadapi militan karena situasi saat ini sangat berbeda dibandingkan pada 1990-an dan awal 2000-an.

Efektivitas Pengusiran

Pemimpin Redaksi Kavkazki Uzel Grigory Shvedov percaya bahwa tekanan terhadap keluarga para militan bukanlah cara yang tepat dalam mengatasi terorisme. Menurut Shvedov, ancaman terorisme di Chechnya saat ini datang dari para perekrut dan militan ISIS.

“Orang-orang yang memiliki hubungan dengan ISIS memutus hubungan dengan keluarga mereka, dan kebanyakan jusrtu tidak meminta dukungan keluarga,” ujar Shvedov kepada RBTH.

Namun begitu, cara tersebut dapat berhasil di Chechnya sekalipun bertentangan dengan hukum federal Rusia, ungkap Alexei Malashenko, seorang kepala peneliti di Institut Dialog Kemasyarakatan, kepada RBTH.

“Masyarakat tradisional masih menjunjung nilai-nilai ‘tanggung jawab bersama’. Karena itu, mereka menganggap cara ini efisien dan mampu menghentikan perekrutan anggota baru ke dalam organisasi teroris.”

Malashenko percaya bahwa “pengusiran keluarga dari militan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk meskipun (harus diakui) itu dapat menyebabkan kerusuhan”.

Iskandaryan mengatakan bahwa tentara Israel juga membakar rumah orang-orang yang diduga pelaku terorisme untuk mengusir keluarga dan kerabat mereka. Ia menambahkan bahwa pendekatan seperti itu tidak sepenuhnya membantu memberantas terorisme.

“Orang-orang ini tidak hanya siap membunuh, tapi juga siap mati,” ujarnya. “Mereka sudah didoktrin sedemikian rupa sehingga akan sulit menghentikan mereka hanya dengan menghukum anggota keluarganya, sekalipun untuk sebagian kasus cara ini cukup efektif.”

Shvedov berkata kepada RBTH bahwa orang-orang perlu mengetahui perbedaan terorisme seperti ISIS, yang didorong oleh alasan agama, dengan gerakan separatisme Chechnya pada 1990-an.

“Selama perang Chechnya, tekanan terhadap keluarga para separatis, termasuk menyandera, membantu meningkatkan keberpihakan militan kepada pemerintah Federal (Rusia),” ujar Shvedov. “Namun, separatisme dan terorisme yang didorong alasan agama adalah dua bentuk pemberontakan yang berbeda. Dibutuhkan alat yang berbeda pula untuk melawan mereka.”

Bagaimana Mengatasi Terorisme?

Shvedov mengatakan bahwa Rusia tidak perlu terlibat dalam propaganda anti-ISIS di Kaukasus Utara. Propaganda semacam itu justru dapat dimanfaatkan oleh jaringan teroris terstruktur tersebut.

Moskow harus mulai mendiskusikan “apa yang sebenarnya terjadi di dalam ISIS berdasarkan informasi yang telah dirangkum,” katanya menambahkan.

“Propaganda menguntungkan ISIS yang memang berusaha membuktikan kehebatannya,” kata Shvedov menambahkan. “Sementara itu, kekerasan juga terjadi di dalam ISIS. Bagi mereka, perempuan tidak memiliki hak paling dasar.”

Para pakar mengatakan bahwa anak muda di Chechnya harus diberikan pengetahuan seperti apakah ISIS sebenarnya.

Iskandaryan percaya bahwa isu terorisme di Kaukasus Utara tidak dapat hanya diatasi oleh polisi. Rusia perlu mengatasi masalah-masalah sosial-agama, yang memang akan membutuhkan proses “yang panjang, mahal, dan tak mudah”, katanya.

Menurutnya, solusi terbaik adalah memberikan anak muda di Kaukasus kesempatan mengembangkan diri.

“Jika para anak muda itu ingin berdiri dengan bangga sembari memegang pistol dan memiliki dada yang bidang, Anda harus memberikan mereka pistol dan fasilitas gym,” ujar Iskandaryan. “Anda harus memberikan mereka gaji dan mengangkat kepercayaan diri mereka. Anak-anak ini harus diberikan kesempatan untuk bisa membanggakan diri. Mereka ingin Islam? Anda harus memberikan pemahaman Islam yang benar kepada mereka.”

+
Ikuti kami di Facebook