Arsip Perang Dingin: Ketika Uni Soviet dan AS Perang Propaganda Lewat Radio

26 Februari 2017 Irina Naumenko, RBTH
Tujuh puluh tahun yang lalu siaran radio asal AS, Voice of America, mulai mengudara di Uni Soviet. Selama beberapa dekade, Uni Soviet dan penyiar-penyiar dari Barat terlibat dalam perang tak terlihat – Barat berusaha menyiarkan propagandanya di Timur, dan Uni Soviet mencoba mengganggu siaran radio itu. Warga-warga Uni Soviet beruntung untuk bisa mendengarkan siaran terlarang itu di malam hari.
The Voice of the United States of America
Sekelompok penyiar dari Departemen Negeri berkerumun di sekitar mikrofon setelah pengiriman gelombang dalam bahasa Rusia pertama dari New York ke Rusia pada 17 Februari 1947. Simbol dalam bahasa Rusia di mikrofon tersebut berarti “The Voice of the United States of America”. Sumber: AP

“Halo! Kami dari New York. Anda sedang mendengarkan siaran radio pertama dari Voice of the United States of America.” Kata-kata ini mengudara di radio di Uni Republik Sosialis Soviet (USSR) pada 17 Februari 1947, atau satu tahun setelah dimulainya Perang Dingin.

Dikenal dengan nama Voice of America atau VOA, ia adalah saluran radio milik pemerintah AS pertama yang mengudara tiap hari dalam bahasa Rusia.

Dalam transmisi pertamanya, penyiar VOA mengutarakan tujuan keberadaan mereka di tanah Soviet: “Untuk memberikan pendengar URSS gambaran kehidupan di AS” dan membangun pertemanan di antara kedua negara. Namun Partai Komunis Uni Soviet tidak percaya dengan niatan baik Washington, dan pada 1948 mulai mengganggu stasiun radio itu.

Suara-suara musuh

Posisi pemerintah URSS tegas saat itu – menurut mereka, saluran radio Barat mencuci otak masyarakatnya dengan propaganda, dan oleh karena itu mereka tidak diizinkan mendengarkannya. Pemancar khusus untuk memblok frekuensi “suara musuh” kemudian banyak dibangun di sana. Pada awal 1960-an, jumlah pemancar pengganggu ini telah mencapai 1.400.

Oleg Rogov, jurnalis yang besar di Uni Soviet, ingat bahwa para pemancar pengganggu itu tidak bekerja dengan baik pada malam hari, sehingga mereka yang ingin mengetahui informasi alternatif akan duduk dengan pesawat radio mereka ketika matahari tenggelam dan mencari frekuensi dengan harapan mendengar sesuatu. Satu cara lain untuk mendengar saluran radio Barat adalah pergi dari kota-kota besar; karena tidak banyak pemancar pengganggu di pedesaan.

Orang-orang sering mendengarkan VOA, Radio Liberty, atau BBC di pedesaan atau di pantai. Cara lainnya adalah membeli radio gelombang pendek, tapi mereka jauh lebih mahal dari radio transistor konvensional dan sering memicu kecurigaan dari pihak berwajib.

This cartoon titled “Radio-Activity” appeared in the newspaper Soviet Estonia on Jan. 24, 1970 as part of the Soviet press campaign against the daily broadcasts of the voice of America. Source: APKartun berjudul "Aktivitas-Radio" ini muncul di sebuah koran di Estonia Soviet pada 24 Januari 1970 sebagai bagian dari kampanye melawan siaran-siaran harian VOA. Sumber: AP

Perang ideologi

“Siaran radio AS bukanlah hadiah untuk dunia, melainkan alat politik internasional mereka untuk menyebarkan nilai-nilai demokrasi,” kata analis media Donald Jensen mengenai VOA. Ia mengakui bahwa VOA memainkan peran dalam propaganda melawan komunisme.

Banyak orang di Uni Soviet melihat “suara musuh” sebagai informasi dari sudut pandang alternatif, sehingga menarik untuk didengarkan. “Kami tidak percaya media Uni Soviet. Membaca koran Uni Soviet itu membosankan,” kata Pavel Balditsyn, profesor di Universitas Negeri Moskow, mengingat kembali masa-masanya. “Tentu saja menarik untuk mendapat informasi dari luar, meski mereka dianggap propaganda.”

Balditsyn mengatakan mereka di URSS yang secara diam-diam mendengar saluran-saluran radio Barat juga meragukan konten didalamnya karena mereka sudah terbiasa dengan propaganda yang dibuat pemerintah.

“Tapi siaran dari VOA kurang lebihnya dapat dipercaya,” ujarnya. Portal berita Lenta.ru melaporkan bahwa VOA merupakan “suara musuh” paling popular dengan 30 juta pendengar setiap minggunya.

Solzhenitsyn dan jazz

VOA menarik bukan hanya karena sudut pandang politiknya yang berbeda. Para pendengar ingat bagaimana mereka menyetel pesawat radio mereka untuk mendengarkan musik atau program-program sastra. Balditsyn ingat ketika sedang bertugas malam hari sebagai tentara ia mendengarkan pembacaan buku The Gulag Archipelago karya Alexander Solzhenitsyn, yang dilarang di URSS dan baru secara resmi dipublikasikan pada 1990.

Aktivis HAM Boris Pustyntsev mengatakan bahwa kecintaannya terhadap musik jazz dimulai dari siaran-siaran VOA. “(Musik) swing, bebop awal-awal, dan lain sebagainya,” ujarnya. “Aku bahkan tidak dapat tidur tanpa mendengarkan program musik terlebih dahulu.”

"Swing, early bebop and so on," recalled Pustyntsev. "I could not even go to sleep without first listening to the latest music program." Photo: Two men listen to radio in the Soviet Union on April 1, 1958. Source: TASSDua orang sedang mendengarkan radio di Uni Soviet pada 1 April 1958. Sumber: TASS

Tugas selesai

Nasib VOA ditentukan oleh dinamika politik, dan segera setelah hubungan AS-Uni Soviet mencair, para pemancar pengganggu tidak lagi bekerja secara intensif atau dimatikan secara bersamaan. Ini terjadi ketika hubungan kedua negara membaik pada paruh kedua 1970-an, namun saluran-saluran radio AS itu kembali diganggu ketika hubungan keduanya kembali memburuk saat invasi Uni Soviet di Afghanistan.

Perlawanan terhadap “suara musuh” dihentikan di bawah pemerintahan Mikhail Gorbachev pada 1986 dengan syarat khusus dari Partai Komunis. Transmisi-transmisi VOA diperbolehkan di URSS, namun ketika Uni Soviet runtuh lima tahun kemudian, stasiun radio tersebut juga mulai hancur. Berakhirnya Perang Dingin juga mengakhiri masa jaya VOA. Sang stasiun radio kurang lebihnya telah menyelesaikan tugasnya.

Pada 1992, Rusia pada akhirnya mengakui kebebasan pers, sehingga sumber-sumber informasi alternatif muncul dan ketertarikan terhadap radio mengurang. Pada Juli 2007, VOA Rusia menghentikan siarannya dan sepenuhnya bertransformasi ke internet.

Tantangan Diplomasi Rusia Setelah Masa Perang Dingin

+
Ikuti kami di Facebook