Mengapa Program Modernisasi Militer Rusia Tak Berjalan?

9 November 2016 Nikolay Litovkin, RBTH
Belum lama ini, tentara Rusia telah menerima divisi pertama sistem misil antipesawat Buk-M3. Namun demikian, pakar militer menyebutkan bahwa pasokan Buk saja tak cukup untuk melindungi Rusia. Rusia harus memodernisasi industri pertahanannya. Sayangnya, rencana itu sepertinya tak berjalan lancar.
BUK-M3
Sistem misil antipesawat Buk-M3, salah satu ‘hadiah’ utama untuk pasukan Rusia tahun ini. Sumber: Press Photo

Pada 21 Oktober lalu, saat tentara Rusia menerima teknologi militer baru mereka, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyampaikan bahwa hingga Oktober 2016 separuh dari perangkat militer Rusia sudah merupakan model-model terbaru. 

Sang menteri, yang juga menyandang gelar jenderal, menyebutkan bahwa sehubungan dengan dekrit presiden, 70 persen teknologi tentara akan didukung dengan model-model terkini pada 2020.

Sistem Misil Antipesawat Buk-M3 Pertama di Pasukan Rusia

Salah satu ‘hadiah’ utama untuk pasukan Rusia adalah sistem misil antipesawat Buk-M3. Sang menteri pertahanan menyebutkan bahwa Angkatan Darat Rusia telah menerima divisi pertama Buk-M3.

“Ini bukan hanya modernisasi dari sistem pertahanan udara yang sudah dimiliki tentara Rusia. Pada dasarnya, ini adalah model baru dengan dimensi lama,” terang Direktur Humas Almaz Antei Valery Yarmolenko.

Sebuah sistem rudal darat-ke-udara BUK-M2E dipamerkan selama Pameran Kedirgantaraan Internasional (MAKS 2015) di Zhukovsky dekat kota Moskow. Sumber: Mikhail Voskresenskiy / RIA NovostiSebuah sistem rudal darat-ke-udara BUK-M2E dipamerkan selama Pameran Kedirgantaraan Internasional (MAKS 2015) di Zhukovsky dekat kota Moskow. Sumber: Mikhail Voskresenskiy / RIA Novosti

Ia menyebutkan bahwa fitur kunci Buk-M3 secara khusus ialah letak misil pada kontainer peluncur, sama seperti sistem S-300, yang secara bersamaan merupakan kontainer transportasi dan peluncuran.

Berkat pengembangan yang diciptakan perancang Rusia, misil dapat ditembakkan dari 12 kontainer silinder dalam tempo 20 detik setelah sistem ini siap. Sistem baru ini dapat menembak misil dan aviasi musuh yang berjarak 70 kilometer, sedangkan pendahulunya hanya mampu menembak sejauh 15 kilometer.

Surat kabar Rossiyskaya Gazeta mengonfirmasi bahwa misil antipesawat Buk-M3 menyerang target darat dan radio-kontras darat. Misil ini tak hanya bisa digunakan sebagai senjata pertahanan, tetepi juga sebagai rudal jelajah taktis. 

Senjata Apa Lagi yang Diterima Tentara Rusia?

Dalam tiga bulan terakhir, pasukan Rusia telah menerima sejumlah sistem pertahanan, di antaranya:

  1. 2 perangkat resimen sistem misil antipesawat S-400 dan 6 mesin tempur Pantsir-S;
  2. sistem misil Bal dan Bastion untuk Distrik Militer Barat;
  3. 2 divisi sistem antipesawat Buk-M2;
  4. 3 misil balistik antarbenua;
  5. 100 misil bersayap Kalibr dan sistem antimisil Onix untuk kapal dan kapal selam Angkatan Laut Rusia.

Pada awal September lalu, dalam Forum Teknologi Militer Army 2016 yang digelar di dekat Moskow, Shoigu menyebutkan bahwa Rusia memamerkan teknologi paling baru di dunia yang dimiliki pasukan bersenjata.

“Perwakilan kementerian pertahanan dan para pakar militer Rusia mengapresiasi kemampuan tempur Rusia dalam pameran tersebut,” terang sang menteri.

Masalah dalam Mempersenjatai Kembali Tentara

“Program modernisasi dan pengembangan pasukan bersenjata Rusia, yang menelan biaya 22 triliun rubel (343 miliar dolar AS), dapat menjamin penuh keamanan negara saat program tersebut selesai pada 2022. 

“Namun, terdapat sejumlah masalah yang harus diselesaikan,” kata Victor Esin, mantan Direktur Staf Jenderal Pasukan Misil Strategis yang saat ini menjadi penasihat kolonel jenderal.

Menurut Esin, modernisasi industri pertahanan, yang sudah mendapat suntikan investasi sebesar 3 triliun rubel (48 miliar dolar AS), berpotensi gagal.

“Ini berkaitan dengan sanksi dan jatuhnya perekonomian Rusia. Proses substitusi impor di industri pertahanan secara praktis mandek,” terang Esin.

Menurut seorang narasumber di industri pertahanan Rusia, masalah utama terletak pada fakta bahwa Rusia tak akan bisa menggantikan barang impor dalam sejumlah bidang kunci pada tahun-tahun mendatang.

“Yang harus dilakukan ialah modernisasi industri pertahanan. Namun, menciptakan sejumlah unit dari nol yang harus memenuhi teknologi temuan baru ialah hal lain. Para perusahaan bisa memproduksi mesin kapal dan helikopter yang tadinya diimpor dari negara lain mulai 2018. Namun, terdapat sejumlah sistem elektronik yang mendampingi mesin ini yang belum bisa diproduksi secara mandiri oleh Rusia,” kata sang narasumber.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan Rusia Timur Ivanov, pendanaan industri pertahanan mengalami penurunan akibat krisis. Tren ini akan berlanjut pada 2017.

“Industri pertahanan memiliki kontrak jangka panjang untuk membangun kapal, misil, aviasi, dan satelit antariksa. Tak akan ada pengucilan di sini. Sepanjang krisis, pembelian teknologi sekunder, seperti perangkat pengangkut personel lapis baja, mesin rekayasa, dan lain-lain, dikurangi,” terang sang narasumber.

Mengapa Rusia Menghabiskan Banyak Uang untuk Memodernisasi Militernya?

Menurut Esin, jumlah pengeluaran pertahanan tak diragukan sangatlah besar. Namun, jika Rusia ingin merasa aman dan tak khawatir akan hari esok maka uang harus dikeluarkan hari ini untuk menghindari berulangnya kejadian pada tahun 1990-an dan 2000-an.

“Berkaitan dengan senjata nuklir, kita cukup setara dengan AS, tapi di bidang senjata konvensional, kita tertinggal cukup jauh. Jika kita ingin menghindari perang, kita harus menutupi apa yang tak kita miliki pada 1990-an dan 2000-an,” kata Esin menyimpulkan.


Sistem pertahanan yang diterima tentara Rusia dalam tiga bulan terakhir:

Pantsir-S

Misil Buk

Rudal Kalibr

Kompleks pertahanan Bastion

S-300, S-400, atau S-500: apa bedanya?

+
Ikuti kami di Facebook