Ikuti Jejak Rusia, Kapal USS George H.W. Bush Serang ISIS dari Laut Tengah

15 Februari 2017 Mikhail Khodarenok, Gazeta.ru
Kapal induk bertenaga nuklir AS USS George H.W. Bush telah melancarkan serangan terhadap ISIS. Para pejabat militer Rusia percaya bahwa tindakan AL AS ini adalah respons terhadap ekspedisi kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov di perairan Suriah.
USS George H.W. Bush
Jet tempur VFA-87 akan lepas landas dari landasan udara kapal induk USS George H.W. Bush. Sumber: Reuters

Pasukan aviasi dari kapal induk Angkatan Laut AS USS George H.W. Bush di bagian timur Laut Tengah sudah memulai penyerangan terhadap target-target ISIS, demikian dilaporkan situs resmi AL AS.

“Dengan mengalahkan ekstremis-ekstremis di Irak dan Suriah, kami turut mendukung dua gerakan tempur serupa di lokasi berbeda. Kami berkomitmen untuk mengalahkan ISIS, berkomitmen terhadap aliansi dan partner kami, serta berkomitmen terhadap keamanan global,” ujar Wakil Komandan Armada Keenam Angkatan Laut AS Christopher W. Grady, Senin (13/2).

Dinamakan untuk menghormati presiden AS ke-41, USS George H.W. Bush adalah kapal induk kelas Nimitz ke-10 dan terakhir milik AS. Ia dapat menampung lebih dari 60 pesawat, termasuk jet tempur, perangkat perang elektronik, pesawat pendeteksi lokasi jarak jauh, pesawat angkut militer, dan helikopter.

Selain kapal ini, Carrier Strike Group 2 — formasi operasional Angkatan Laut AS dalam misi memberantas ISIS — juga memiliki kapal misil jelajah USS Philippine Sea dan USS Hue City, serta kapal perusak misil USS Laboon dan USS Truxtun.

Kapal induk USS George H.W. Bush diperkirakan akan segera menuju ke Teluk Persia. Dari sanalah pasukan aviasi kapal induk ini akan terus melancarkan serangan terhadap sasaran ISIS di Irak dan Suriah.

Apakah AS Ingin Bersaing dengan Rusia?

Serangan yang dilancarkan pesawat-pesawat tempur USS George H.W. Bush dapat dilihat sebagai bentuk kompetisi kekuatan laut dengan Rusia, kata Laksamana Viktor Kravchenko, mantan Kepala Pangkalan Utama Angkatan Laut Rusia.

“Bagaimanapun juga, AS memiliki cukup banyak pangkalan udara di Timur Tengah — di Kuwait, Turki, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi. Namun, mereka memutuskan untuk meningkatkan serangan terhadap ISIS dan teroris-teroris lain melalui dengan mengerahkan pasukan aviasi kapal induk,” ujar Kravchenko.

Selain itu, Presiden AS Donald Trump memang telah berjanji untuk meningkatkan perlawanan terhadap ISIS. Jadi, kehadiran kapal induk AS di Laut Tengah bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

“Ini hanya perkiraan, tapi saya kira ada kerja sama nyata yang terjadi antara AS dengan pasukan Rusia di Suriah. Mereka mungkin sudah menyetujui target-target penyerangan dan rute penerbangan pesawat-pesawat kapal induk, terutama melalui area yang masih dalam jangkauan sistem misil antipesawat jarak jauh Rusia,” ujarnya.

Mencontoh Rusia

Laksamana Muda Arkady Syroyezhko, yang merupakan seorang mantan petugas di Direktorat Operasional Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, mengatakan bahwa AS berusaha mencontoh Rusia.

“Serangan udara dari kapal induk AS ini dapat dilihat sebagai transisi, dari sekadar bicara menjadi aksi nyata. Hal paling penting adalah mereka tidak boleh salah dan menyerang pasukan udara yang beraliansi dengan kita (Rusia),” ujar Syroyezhko.

“Sehingga, yang patut diperhatikan adalah interaksi dan kerja sama dalam menentukan target. Semakin besar serangan terhadap para teroris bersenjata, akan semakin cepat terciptanya perdamaian di Timur Tengah.”

Kembalinya Laksamana Kuznetsov

Kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov telah kembali ke pangkalannya di Severomorsk pada awal bulan ini. Menurut Sergei Artamonov, komandan kapal tersebut, kapal induk sempat dibuntuti hingga 60 kapal milik negara-negara anggota NATO selama perjalanannya dari Severomorsk ke Laut Tengah.

“Bahkan di beberapa lokasi, misalnya dari Laut Norwegia hingga timur LautTenagh, rombongan kami dibuntuti 10 – 11 kapal secara bersamaan,” ujar Artamonov.

Kapal Induk Rusia Laksamana Kuznetsov. Sumber: AFP / East NewsKapal Induk Rusia Laksamana Kuznetsov. Sumber: AFP / East News

Pada November 2016, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa Laksamana Kuznetsov untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia akan digunakan untuk keperluan tempur.

Dalam pelayarannya, kapal induk ini kehilangan dua jet tempur di Laut Tengah, yaitu sebuah MiG-29 dan Su-33, yang mengalami kecelakaan pendaratan karena ada masalah dengan sistem kabelnya.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Gazeta.ru.

+
Ikuti kami di Facebook