Persenjatai Tentara Afganistan, AS Beli Senapan Kalashnikov

14 Maret 2017 Nikolay Litovkin, RBTH
Amerika membekali tentara Afganistan dengan senapan Kalashnikov tanpa melanggar larangan pembelian senjata Rusia.
Afghanistan
Tentara Afganistan telah menggunakan Kalashnikov selama puluhan tahun. Sumber: Getty Images

Di tengah sanksi dan larangan kerja sama dengan kompleks industri pertahanan dalam negeri Rusia, Pentagon ternyata membeli senapan mesin Kalashnikov dan mengirimkannya kepada Tentara Nasional Afganistan (ANA), ungkap Sergey Chemezov, kepala perusahaan milik negara Rostec, dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Rossiya 24, Selasa (14/3).

“Amerika membeli senjata (Rusia) secara tidak langsung melalui negara-negara bekas blok Soviet,” kata Chemezov.

Menurut Chemezov, sebagian besar senapan Kalashnikov yang dibeli AS adalah model lama dari Uni Soviet yang tersisa di gudang negara-negara Eropa Timur. “Senjata-senjata ini dimodernisasi hingga batas tertentu dan dijual kepada pemerintah Afganistan,” ujarnya.

Senjata Apa yang Dikirim?

Namun demikian, para ahli berpendapat bahwa Kalashnikov yang dibeli AS bukan hanya senjata-senjata lama, tapi juga model baru yang diproduksi di Polandia dan Bulgaria.

“Amerika memasok senapan mesin AK-47 kaliber 7,62x39 mm ke Afganistan. Mereka Berasal dari pabrik-pabrik dan berbagai gudang di Polandia dan Bulgaria. Pabrik Izhmash telah menjual lisensi untuk memproduksi senjata-senjata ini pada masa Soviet dulu,” kata Dmitry Safonov, seorang analis militer dari surat kabar Izvestia, kepada RBTH.

Menurutnya, Pentagon juga bisa membeli senapan mesin AK-74 kaliber 5,45x39 mm untuk tentara Afganistan dari Ukraina.

Para ahli menyebutkan, ketertarikan Amerika terhadap senjata buatan Rusia ini tak lepas dari kualitas unik mereka. “Tentara Afganistan telah menggunakan Kalashnikov selama puluhan tahun. Senjata ini sangat cocok digunakan di wilayah gurun berbatu dan padang rumput yang kering,” kata Safonov.

Amerika pernah mencoba mempersenjatai tentara Afganistan dengan senjata produksi sendiri, seperti AR-15, M-16, dan sebagainya. Namun, senjata-senjata itu ternyata lebih rumit dan ‘rewel’ untuk digunakan dibandingkan dengan AK-47 buatan Soviet, ujar mantan penasihat dirjen perusahaan Kalashnikov, Andrew Kirilenko, kepada RBTH.

“Kalashnikov dipilih karena keandalannya. Pentagon telah kehilangan sejumlah besar tentaranya di Afganistan akibat kegagalan senjata selama baku tembak. Karena alasan yang mengotori citra senjata buatan Amerika itulah, AS tak berhasil mempersejatai tentara Afganistan dengan senjata buatan mereka sendiri,” tambah Kirilenko.

Adakah Konflik Kepentingan?

Para ahli berpendapat bahwa sama sekali tidak ada konflik kepentingan yang bersifat politis dalam pemasokan senjata ke Afganistan. Rusia tidak dapat memasok senjata ke Afganistan karena AS-lah yang mendanai pemerintah setempat. Sementara, Afganistan sendiri yang menentukan permintaan senjata kepada AS.

“Satu-satunya masalah adalah bahwa setelah runtuhnya Uni Soviet, baik Polandia maupun Bulgaria tidak membayar royalti (persentase penjualan atas penggunaan paten untuk pembuatan senjata) kepada Kalashnikov ataupun Rostec atas penjualan senapan mesin ini. Mereka tidak menganggap itu perlu,” kata Safonov.

Menurut Safonov, baik Kalashnikov maupun Rostec telah mengangkat isu ini selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah berhasil. “Satu-satunya negara yang membayar royalti kepada perusahaan atas penjualan Kalashnikov ke pasar luar negeri adalah Tiongkok. Sementara, sisa masalah ini masih harus diselesaikan,” kata sang ahli.

+
Ikuti kami di Facebook