Lima Fakta Mengenai Maria Sharapova

Petenis Rusia Maria Sharapova (27) berhasil mengalahkan petenis asal Rumania Simona Halep dalam pertandingan final French Open, Sabtu (7/6). Pertandingan sengit yang berlangsung selama tiga jam tersebut mengantarkan Maria meraih gelar Roland Garrosnya yang kedua, sekaligus gelar juara kelima sepanjang karirnya. Kali ini, RBTH akan memaparkan lima fakta menarik tentang bintang tenis asal Rusia ini.
Maria adalah tipikal pemain yang tidak melaksanakan strategi pelatih dalam pertandingan. Foto: AP
Maria adalah tipikal pemain yang tidak melaksanakan strategi pelatih dalam pertandingan. Foto: AP

Petenis Perempuan Terkaya Kedua di Dunia

Kemenangan Sharapova kali ini membuat ia menempati posisi kedua dalam peringkat penghasilan terbesar petenis perempuan dunia sepanjang sejarah. Ia telah mengumpulkan 31 juta dolar AS dari prestasinya di lapangan, melampaui petenis AS Venus Williams. Maria hanya tertinggal dari Serena Williams yang telah mengumpulkan 55 juta dolar AS. Ia harus memenangkan 32 kompetisi lain untuk dapat menyaingi Serena.

“Saat saya melihat teman sebaya saya duduk dalam mobil mewah mereka, saya sadar bahwa semua yang saya dapatkan adalah hasil kerja keras saya sendiri, dan saya merasa puas. Kadang saya merasa ada pandangan miring terhadap saya, ketika seseorang melihat saya dan berpikir, “Ah dia hanya boneka rusak yang dibelikan Range Rover mewah oleh ayahnya.” Dan saya bisa menjawab,”Tidak sayang! Saya membeli itu sendiri.”

Bermain Penuh Spontanitas

Maria adalah tipikal pemain yang tidak melaksanakan strategi pelatih dalam pertandingan dan ia tidak suka menganalisis pertandingan-pertandingan pribadinya. Ia sadar bahwa hal tersebut sangat tidak disukai oleh para pelatih, bahkan salah satu pelatih tenisnya Thomas Hogstedt asal Swedia, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Sang pelatih tidak tahan menghadapi tingkah laku anak didiknya tersebut, dan berhenti setelah masa bakti tiga tahun yang produktif. Sejak Agustus 2013, Maria Sharapova dilatih oleh mantan pemegang raket nomor 1 dunia asal AS, Jimmy Connors.

“Apapun yang kami diskusikan sebelum pertandingan, saya tetap bermain di lapangan sesuai keinginan saya. Setelah pertandingan, kadang pelatih berkata kepada saya, “Lalu untuk apa saya di sini?” Saya meminta maaf, tetapi selanjutnya saya tetap melakukan permainan sesuai kehendak saya.”

“… Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya menonton ulang pertandingan saya hingga habis. Hal itu sebenarnya tidak baik, dan tentu mengecewakan pelatih saya. Ia ingin saya duduk dan menonton pertandingan saya, kemudian memberi kesimpulan. Tapi saya hanya tahan menonton pertandingansaya sekitar 10 sampai 15 menit saja. Tentu saja melihat kemenangan saya sendiri merupakan hal yang menyenangkan, tapi saya tidak suka melihat masa lalu. Mungkin nanti saya akan menontonnya ketika saya sudah pensiun.”

Sinis Terhadap Wartawan

Maria tidak suka bercengkerama dengan para wartawan, itu dapat disimpulkan dari sebagian besar konferensi pers dan dalam wawancara pribadinya. Maria sering menjawab pertanyaan wartawan dengan sangat sinis, dan kadang ia tidak dapat mengendalikan emosinya.

“Apa saya mencatat sesuatu selama pertandingan? Ya, saya mencatat daftar kebutuhan sehari-hari. Anda tahu saya di sana bermain tenis. Mungkin tidaklah sulit untuk menebak bahwa maksud saya adalah catatan mengenai pertandingan”.

“Rekan sekalian, saya mengerti bahwa mencari berita adalah pekerjaan Anda, tapi sekarang tolong singkirkan kertas, pena, dan “alat penghitung kebisingan” Anda. Berhentilah menjadi fashion police, dan coba lihat pertandingan dari sudut pandang penggemar. Amati pertandingan dengan seksama. Saya rasa setelah itu Anda akan memiliki pertanyaan yang menarik”.

Catatan: Kebisingan maksimum teriakan Maria di lapangan mencapai 105 desibel, sama dengan kebisingan yang dihasilkan oleh mesin pesawat jet

Agen Perdamaian

Maria dipilih menjadi Goodwill Ambassador PBB pada Februari 2007. Sharapova memanfaatkan popularitasnya untuk menarik perhatian masyarakat terhadap masalah kesulitan air bersih di Afrika, ketergantungan narkoba di negara-negara berkembang, serta perlindungan kekayaan alam. Ia mengaku bahwa konferensi pers pertamanya di PBB adalah salah satu konferensi yang paling mendebarkan selama karirnya.

“… Saya sampai berkeringat dingin! Biasanya saya ditanya, ‘Bagaimana pukulan kanan Anda hari ini?’. Namun, hari itu seorang wartawan bertanya pada saya, 'Apa yang harus dilakukan untuk menghapuskan perang dan kemiskinan di dunia ini?'. Rasanya saya lebih baik diminta menerangkan mengenai pukulan kanan saya”.

Keturunan Siberia

Maria Sharapova lahir di sebuah kota kecil Nyagan, Siberia. Ia selalu membanggakan tempat asalnya saat berkeliling dunia.

“… Saya sangat bangga saya lahir di Siberia. Saya senang jika komentator lapangan memperkenalkan saya dengan kalimat “Ia lahir di Nyagan, Siberia”, bukan dengan kalimat “Ia lahir di Rusia”. Ketika orang-orang menyerukan “Wow!” saat mendengar hal itu, artinya informasi tersebut mengejutkan mereka. Saya sangat bangga akan hal tersebut, bahkan lebih bangga dibanding memenangkan Roland Garros ataupun meraih predikat pemegang raket nomor satu dunia”.

+
Ikuti kami di Facebook