Tanpa Persetujuan Kongres, Trump Luncurkan Serangan Rudal ke Suriah

Presiden AS seharusnya meminta otorisasi Kongres untuk melancarkan aksi militer.
U.S. President Donald Trump attends a lunch with members of the U.S. military
Presiden AS Donald Trump bersama para anggota militer AS selama kunjungan ke Pusat Komando AS (CENTCOM) dan markas Komando Operasi Khusus (SOCOM) di Tampa, Florida, AS, 6 Februari 2017. Sumber: Reuters

Presiden AS Donald Trump seharusnya meminta persetujuan Kongres sebelum meluncurkan serangan rudal terhadap pangkalan udara di Suriah sebagaimana yang diamanatkan dalam Konstitusi AS, kata Senator Rand Paul dalam sebuah pernyataan.

“Presiden memerlukan otorisasi Kongres untuk melancarkan aksi militer, sebagaimana yang tertera dalam konstitusi,” tulis Paul melalui Twitter-nya, Kamis (7/4), seperti yang dikutip Sputnik. “Intervensi kita di wilayah ini tidak membuat kita lebih aman dan tidak membuat perubahan di Suriah.”

Sebelumnya, dalam pidato yang disampaikan Presiden Trump setelah mengotorisasi serangan rudal ke sebuah pangkalan udara di Suriah, ia mengatakan serangan itu ditargetkan ke lokasi yang ia klaim sebagai tempat diluncurkannya serangan kimia di Idlib.

Menurut Trump, Presiden Suriah Bashar Assad telah menggunakan zat kimia mematikan untuk membunuh banyak orang, dan menyerukan ‘semua bangsa beradab untuk mengakhiri pembantaian dan pertumpahan darah di Suriah’.

“Serangan rudal terhadap lapangan udara Suriah berhubungan dengan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa AS perlu mencegah penyebaran dan penggunaan senjata kimia.

Sebelumnya, sekitar 59 rudal jelajah Tomahawk diluncurkan pada Kamis (6/4) malam ke lapangan udara militer di Ash Sha'irat, 38 kilometer dari tenggara kota Homs, Suriah.

+
Ikuti kami di Facebook