Mengungkap Fakta GLONASS, GPS Versi Rusia

11 Februari 2014 RIA Novosti
Presiden Kemitraan Nonkomersial GLONASS Aleksandr Gurko membongkar mitos terkait sistem navigasi satelit Rusia.
Aleksandr Gurko: Di Rusia sistem navigasi ganda GLONASS/GPS diterima sebagai standar negara. Sistem ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan diwajibkan bagi semua aplikasi negara. Kredit: RIA Novosti
Aleksandr Gurko: Di Rusia sistem navigasi ganda GLONASS/GPS diterima sebagai standar negara. Sistem ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan diwajibkan bagi semua aplikasi negara. Kredit: RIA Novosti

Sistem navigasi satelit Rusia GLONASS merupakan salah satu produk teknologi tinggi Rusia yang cukup fenomenal. Sebagai ‘pesaing’ GPS, banyak rumor, salah pengertian, bahkan lelucon yang muncul mengenai GLONASS. Untuk meluruskan hal tersebut, berikut tersaji wawancara dengan Aleksandr Gurko, Presiden Kemitraan Nonkomersial GLONASS, yang mengungkap fakta-fakta GLONASS.

Mengapa perlu ada GLONASS jika seluruh dunia telah menggunakan GPS?

Global Navigation Satellite System (GLONASS) adalah sistem navigasi satelit yang dioperasikan oleh Angkatan Pertahanan Luar Angkasa Rusia. GLONASS merupakan satu-satunya alternatif sistem navigasi dengan jangkauan global selain Global Positioning System (GPS).

Pembangunan GLONASS dimulai oleh Uni Soviet pada 1976. Saat ini kelompok orbit GLONASS terdiri dari 27 satelit yang terdiri dari 24 satelit untuk memastikan navigasi global dan tiga sisanya adalah cadangan atau untuk melakukan tes peralatan eksperimen.

Sejauh ini ada 14 stasiun monitor di Rusia, satu di Brasil dan satu di benua Antartika, di stasiun Bellingshausen Rusia. Stasiun GLONASS lainnya diharapkan akan dibangun dalam waktu dekat: delapan di Rusia, dua di Brazil, satu di Australia, Kuba, Indonesia, Spanyol, Vietnam dan stasiun tambahan di Antartika.

Sistem navigasi merupakan infrastruktur yang digunakan oleh seluruh dunia dan menjadi basis bagi ekonomi nasional sebuah negara. Kita tidak boleh bergantung pada satu negara saja untuk infrastruktur yang sangat penting tersebut. Apalagi, operator sistem navigasi memiliki pilihan untuk mematikan sinyal warga sipil untuk area tertentu atau membuatnya tidak sensitif secara artifisial. Generasi terbaru satelit GPS telah mendukung fungsi tersebut. Ini bukan tentang konflik militer, mengingat ancaman untuk mematikan ‘pengalihan navigasi’ pada dasarnya dapat digunakan untuk mencapai tujuan politik atau ekonomi. Ini hanyalah langkah kecil untuk berpindah dari ketergantungan teknologi pada medan navigasi satelit yang sempit menuju ketergantungan ekonomi, politik, dan militer.

Pada dasarnya sistem navigasi Rusia dan Amerika Serikat sama, bertujuan agar pengguna dapat menemukan lokasi mereka pada peta, baik menggunakan sinyal dari GLONASS maupun GPS. Tidak ada alasan untuk beralih begitu saja dari satu sistem ke sistem lain.

Namun, situasinya berbeda jika alat yang digunakan dapat menerima dan memproses sinyal dari kedua sistem. Pengguna bisa merasakan manfaat signifikan dalam hal kecepatan pemrosesan koordinat dan akurasinya. Untuk kondisi ‘standar’ kota, bisa terjadi peningkatan dari 60-70 persen hingga titik maksimum yakni 100 persen.

Di Rusia sistem navigasi ganda GLONASS/GPS diterima sebagai standar negara. Sistem ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan diwajibkan bagi semua aplikasi negara.

Rusia mengklaim bahwa GLONASS adalah satu-satunya alternatif untuk GPS – bagaimana kenyataannya?

Hal itu benar untuk saat ini. Tapi keadaan akan berubah dalam tiga atau empat tahun ke depan. Sistem navigasi BeiDou milik Cina sekarang telah beroperasi sebagai sistem regional di dalam batas-batas Kawasan Asia-Pasifik. Uni Eropa sudah mulai menggunakan sistem Galileo. Jika tidak ada halangan, kedua sistem ini akan disebarkan secara global dalam beberapa tahun mendatang. 

Ini sebenarnya akan menjadi masalah bagi para pionir. Baik GPS dan GLONASS dikembangkan pada 1970-an dan keduanya tidak mempertimbangkan teknologi modern. Galileo dan BeiDou dirancang berpuluh-puluh tahun kemudian, yang memungkinkan penggunaan sistem yang lebih modern dan secara teknis lebih maju. Sistem GPS dan GLONASS kini tengah diperbaharui, tetapi proses ini memerlukan waktu lebih lama dan memakan biaya lebih mahal karena satelit pengorbit yang dioperasikan saat ini harus secara bertahap diganti dengan model baru.

Apakah benar GPS jauh lebih akurat daripada GLONASS?

Akurasi GLONASS saat ini setara dengan GPS. Jika sebuah receiver GPS secara teoritis dapat memperbaiki posisi sebuah lokasi yang terekspos tidak lebih dari 3-4 meter, GLONASS bisa mencapai 7-10 meter.

Perbedaan teoritis ini pada praktiknya tidak penting. Pertama, tidak ada alat navigasi yang hanya mendukung sistem GLONASS. Semua receiver yang dapat menerima sinyal GLONASS pasti dapat menerima sinyal GPS. Kedua, receiver pengguna biasanya akan menjalankan pemrosesan sinyal tambahan dan merata-ratakan hasilnya. Misalnya, jika sebuah mobil berjalan di sepanjang jalan yang lurus sempurna, dalam data navigasi satelit lintasan gerakan kendaraan itu akan tampak seperti garis putus-putus yang cukup rumit dengan banyak deviasi acak. Dalam kasus ini, software sistem akan memperbaiki garis menjadi peta digital sehingga layar akan menampilkan jalan lurus sempurna yang sama dengan di dunia nyata.

Bagaimana cara meningkatkan akurasi GLONASS?

Akurasi posisi dapat diperbaiki dengan bantuan satelit dan infrastruktur permukaan tanah. Saat ini sistem wide-area augmentation (Sistema Shirokozonnoy Differentsialnoy Korrektsii/SDKM) sedang dikembangkan di Rusia. Koreksi akan dikirimkan kepada SDKM melalui saluran komunikasi satelit dari satelit ‘Luch’ di orbit geostasioner. Akurasi koordinat akan meningkat hingga ukuran desimeter. Tetapi pengguna yang memerlukan akurasi hingga level tersebut harus menggunakan modem khusus yang mampu menjangkau sinyal satelit ‘Luch’.

Ada alternatif tanpa satelit, namun perlu sekitar 300 stasiun basis koreksi diferensial yang berlokasi di tempat-tempat paling maju di Rusia. Cara ini dapat memastikan akurasi ukuran milimeter dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di RIA Novosti.

 
+
Ikuti kami di Facebook